Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 

MERCHANT C
   
   
   
   
   
   
Home > Pengetahuan > Artikel
Sunan Kalijaga
WUWUR SEMBUR

oleh :
Ki Ageng Panembahan Darmo Samito
 

Sebelumnya : SUNAN KALIJAGA artikel ke-1

Sebelumnya : SUNAN KALIJAGA artikel ke-2


SUNAN KALIJAGA DALAM WARAWEDHA
artikel ke-3

 

Kanjeng Sunan Kalijaga melihat bahwa manusia hendaknya mengendalikan diri ketika muncul karakter singa si raja hutan. Singa dalam kehidupan yang liar di tengah hutan, hanya menggunakan asas manfaat, artinya singa sebagai predator yang menakutkan bagi kehidupan komunitas lemah. Sehingga ketika manusia berada dalam belantara kehidupan, mencapai sebuah tingkat sosial seperti singa, hendaknya tidak menjadi singa yang selalu kelaparan. Keganasan singa terjadi ketika karakter predatornya menjadi dominan. Manusia bukanlah seekor singa, tapi sudah menjadi kehendak Sang Perncipta manusia mampu menjinakkan singa. Sekalipun di tengah belantara kehidupan ada kehidupan lain yang ganas, manusia mampu mengendalikan dan mengaturnya. Memanage belantara kehidupan, adalah sebuah kepiawaian dan kewajiban manusia sebagai ciptaan tertinggi.

Dalam bait kedua, Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa hendaknya manusia duduk diatas gajah. Gajah adalah simbol pengetahuan, dilihat dari makna gading gajah itu sendiri. Pengetahuan yang dibentuk berdasarkan “ Learning by doing “ dalam kehidupan, hendaknya menjadi sebuah tunggangan manusia dalam mengarungi belantara kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi alat yang bernama “ lati “ atau mulut atau bibir. Memang bila bibir itu diberi lipstik dan dilumuri mentega akan nampak cantik. Namun perlu diketahui bahwa bibir adalah “ Gendewa “ atau busur. Sedangkan ucapan yang keluar dari nurani adalah “ jemparing “ atau anak panah. Penggunaan kedua alat ini seyogyanya di jaga betul, dan digunakan tepat pada sasarannya. Apa jadinya, bila manusia tanpa mulut ?. Dalam dunia pakeliran wayang, apa jadinya bila Dalang tanpa bibir ? Apa jadinya bila cerita yang digelar tanpa “ Suluk “ ?. Apa jadinya bila pakeliran tanpa “ Gunungan “ ? Apa jadinya bila pakeliran tanpa “ Blencong “ atau lampu penyorot ?

Kehidupan manusia tidak lebih seperti cerita wayang dalam pakeliran. Sehingga Sunan Kalijaga perlu memberi arah kepada manusia untuk mampu menyingkirkan segala bentuk kekuatan alam bawah. Kekuatan yang dibangun oleh jim, syetan dan brekasakan yang selalu menjadi parasit atau benalu dalam jiwa manusia. Hal ini diungkapkan Sunan Kalijaga dalam bait kedua hingga ke sembilan. Manusia harus mampu berdiri kokoh, di empat penjuru bersih dari kekuatan-kekuatan alam bawah. Peperangan dalam diri manusia dilakukan untuk menyingkirkan dan membersihkan parasit-parasit tersebut. Sebagai sebuah awal dari yang disebut “ Jiwa yang sehat “, guna menciptakan sebuah “ pola pikir yang sehat “. Peperangan manusia dimulai dari Roh manusia itu sendiri, disebutkan sebagai Ki Jabang Bayi yang mencari sebuah kemulyaan diri. Peperangan dimulai dari sisi timur yang menggambarkan tempat matahari sebagai sumber cahaya terbit dalam pribadi manusia. Pengetahuan yang baik sebagaimana sebuah gading gajah, menjadi sebuah senjata bagi peperangan dalam pribadi manusia. Kemudian diteruskan pada sisi selatan, barat dan utara.

Peperangan dalam jiwa manusia, wajib dilakukan guna mencapai sebuah kemulyaan Ki Jabang Bayi melewati ‘ siratal mustakim ‘. Tembang Warawedha merupakan sebuah pengalaman pribadi Kanjeng Sunan Kalijaga untuk mencapai tingkat spiritualitasnya. Kecuali sebagai tembang, rupanya menjadi sebuah anak panah yang dilepaskan dari busur bibirnya. Dan memang pada kenyataannya hingga sekarang masih mampu menembus perisai yang dibuat oleh kekuatan bawah. Ketika manusia mendengarkan tembang ini, para parasit jebol seakar-akarnya. Tembang ini seperti air yang melakukan pencucian jiwa. Begitu tingginya tingkat spiritual Kanjeng Sunan Kalijaga, sehingga tembang tersebut masih mampu eksis hingga kini. Peperangan ini senantiasa dilakukan manusia setiap hari, pada waktu-waktu yang terbaik. Bagi Sunan Kalijaga waktu terbaik adalah setelah ba’da mahgrib sebelum ba’da isya. Selama kurun waktu yang tidak terlalu lama tersebut seyogyanya digunakan oleh manusia, guna mencetak pribadinya menjadi leader yang baik dan benar. Tembang ini selalu dilantunkan oleh masyarakat tradisional setelah sholat magrib, apalagi bagi seorang calon bapak. Seorang calon bapak melantunkannya disamping istrinya yang sedang mengandung jabang bayi. Nilai-nilai etika dan estetika yang tinggi sekali, kasih sayang dijalin oleh seorang bapak dan ibu tradisional. Sebagai sebuah tanggung jawab yang tinggi kepada Sang Pencipta, akan berkah Nya dalam bentuk karya cipta sexualitas manusia yaitu calon manusia. Barangkali pada masa kini akan dianggap ‘ out of date ‘ oleh masyarakat modern. Namun perlu dicoba oleh keluarga muda dan modern, apakah pada masanya nanti anak tersebut akan menjadi sosok manusia yang “ wiji pinilih “ ?. Tidak ada sebuah bukti yang bisa diraih tanpa mencobanya, dengan maksud bukan untuk coba-coba. Kecanggihan teknologi yang demikian pesat, patut dijadikan sebagai sebuah alat. Cukup dengan sebuah CD player, mengosongkan segala pikiran, memfokuskan diri pada Sang Pencipta, mohon ampun kepada NYA dan menyerahkan seluruh jiwa, raga serta kehidupan dalam tangan NYA.

Dengan sikap yang baik dan rileks mulai mendengarkan tembang, serasa dibawa melayang jauh keatas pada sebuah tempat yang terang, damai penuh ketenangan. Di situlah langit sap tujuh itu berada. Apapun yang dijumpai ketika mendengarkan dalam posisi tersebut dan memejamkan mata, bukanlah sebuah ilusi atau halusinasi bahkan obsesi. Semua itu adalah bahasa alam, alam semesta yang baik dan benar mencoba bersahabat dan bertutur kata pada diri manusia. Bisa juga dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama dalam sebuah ruangan yang bersih dan harum. Tata cara tradisional ini, akan sangat bermanfaat bagi manusia yang mengalami kepenatan berfikir pada setiap harinya. Setelah melakukan dan mendengarkan tembang ini akan terasa ringan dan enteng ditubuh, terasa tenang di hati, terasa tenang pula dalam pola pikir. Tempat dimana kita melakukan itupun akan berdampak bersih dari atmosfer negatif. Sehingga tercapai sehat jiwa, sehat raga, sehat pola pikir dan sehat papan.

Tertantang untuk mencoba……? Silahkan..apapun yang hendak dikonsultasikan silahkan menulis e-mail pada website ini….

 

Untuk mendegarkan Tembang Pangkur Waraweda klik disini


Back to Top

KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Batik Karaton
   Gamelan
   Keris
   
MERCHANT B
   
   
   
   
   
   

Kesehatan

Ki Mayang Seto
Pengobatan tradisional dengan memanfaatkan energy alam. Mendiagnosa pasien sehingga dapat mengetahui penyebab penyakit, menyembuhkan, dan cara pencegahannya.

 

Konsultasi
Kesehatan

Nama :

Email :

Keluhan :

 
 
Kirimkan pertanyaan atau keluhan2 anda seputar kesehatan disini.
Oleh Ki Mayang Seto.
Brawijaya ?
Kilisuci
Kunti Talibrata
Terlahir kembaliupdate
Buku-buku budaya


Ki Ageng Panembahan Darmo Samito

 

   
Kami mengharapkan kritik dan saran guna perkembangan pasarjava
Apabila anda ingin memberi masukan silahkan kirim ke alamat kami di
info@pasarjava.com

Sebelumnya kami ucapkan banyak terimakasih.
 

Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian