|
SUNAN KALIJAGA DALAM WARAWEDHA
artikel
ke-3
Kanjeng Sunan Kalijaga melihat bahwa manusia hendaknya mengendalikan
diri ketika muncul karakter singa si raja hutan. Singa dalam kehidupan
yang liar di tengah hutan, hanya menggunakan asas manfaat, artinya
singa sebagai predator yang menakutkan bagi kehidupan komunitas
lemah. Sehingga ketika manusia berada dalam belantara kehidupan,
mencapai sebuah tingkat sosial seperti singa, hendaknya tidak menjadi
singa yang selalu kelaparan. Keganasan singa terjadi ketika karakter
predatornya menjadi dominan. Manusia bukanlah seekor singa, tapi
sudah menjadi kehendak Sang Perncipta manusia mampu menjinakkan
singa. Sekalipun di tengah belantara kehidupan ada kehidupan lain
yang ganas, manusia mampu mengendalikan dan mengaturnya. Memanage
belantara kehidupan, adalah sebuah kepiawaian dan kewajiban manusia
sebagai ciptaan tertinggi.
Dalam bait kedua, Sunan Kalijaga mengingatkan bahwa hendaknya manusia
duduk diatas gajah. Gajah adalah simbol pengetahuan, dilihat dari
makna gading gajah itu sendiri. Pengetahuan yang dibentuk berdasarkan
“ Learning by doing “ dalam kehidupan, hendaknya
menjadi sebuah tunggangan manusia dalam mengarungi belantara kehidupan.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi alat yang bernama “
lati “ atau mulut atau bibir. Memang bila bibir itu diberi
lipstik dan dilumuri mentega akan nampak cantik. Namun perlu diketahui
bahwa bibir adalah “ Gendewa “ atau busur.
Sedangkan ucapan yang keluar dari nurani adalah “ jemparing
“ atau anak panah. Penggunaan kedua alat ini seyogyanya
di jaga betul, dan digunakan tepat pada sasarannya. Apa jadinya,
bila manusia tanpa mulut ?. Dalam dunia pakeliran wayang, apa jadinya
bila Dalang tanpa bibir ? Apa jadinya bila cerita yang digelar tanpa
“ Suluk “ ?. Apa jadinya bila pakeliran tanpa
“ Gunungan “ ? Apa jadinya bila pakeliran tanpa
“ Blencong “ atau lampu penyorot ?
Kehidupan manusia tidak lebih seperti cerita wayang dalam pakeliran.
Sehingga Sunan Kalijaga perlu memberi arah kepada manusia untuk
mampu menyingkirkan segala bentuk kekuatan alam bawah. Kekuatan
yang dibangun oleh jim, syetan dan brekasakan yang selalu menjadi
parasit atau benalu dalam jiwa manusia. Hal ini diungkapkan Sunan
Kalijaga dalam bait kedua hingga ke sembilan. Manusia harus mampu
berdiri kokoh, di empat penjuru bersih dari kekuatan-kekuatan alam
bawah. Peperangan dalam diri manusia dilakukan untuk menyingkirkan
dan membersihkan parasit-parasit tersebut. Sebagai sebuah awal dari
yang disebut “ Jiwa yang sehat “, guna menciptakan
sebuah “ pola pikir yang sehat “. Peperangan manusia
dimulai dari Roh manusia itu sendiri, disebutkan sebagai Ki Jabang
Bayi yang mencari sebuah kemulyaan diri. Peperangan dimulai dari
sisi timur yang menggambarkan tempat matahari sebagai sumber cahaya
terbit dalam pribadi manusia. Pengetahuan yang baik sebagaimana
sebuah gading gajah, menjadi sebuah senjata bagi peperangan dalam
pribadi manusia. Kemudian diteruskan pada sisi selatan, barat dan
utara.
Peperangan dalam jiwa manusia, wajib dilakukan guna mencapai sebuah
kemulyaan Ki Jabang Bayi melewati ‘
siratal mustakim ‘.
Tembang Warawedha merupakan sebuah pengalaman pribadi Kanjeng Sunan
Kalijaga untuk mencapai tingkat spiritualitasnya. Kecuali sebagai
tembang, rupanya menjadi sebuah anak panah yang dilepaskan dari
busur bibirnya. Dan memang pada kenyataannya hingga sekarang masih
mampu menembus perisai yang dibuat oleh kekuatan bawah. Ketika manusia
mendengarkan tembang ini, para parasit jebol seakar-akarnya. Tembang
ini seperti air yang melakukan pencucian jiwa. Begitu tingginya
tingkat spiritual Kanjeng Sunan Kalijaga, sehingga tembang tersebut
masih mampu eksis hingga kini. Peperangan ini senantiasa dilakukan
manusia setiap hari, pada waktu-waktu yang terbaik. Bagi Sunan Kalijaga
waktu terbaik adalah setelah ba’da mahgrib sebelum ba’da
isya. Selama kurun waktu yang tidak terlalu lama tersebut seyogyanya
digunakan oleh manusia, guna mencetak pribadinya menjadi leader
yang baik dan benar. Tembang ini selalu dilantunkan oleh masyarakat
tradisional setelah sholat magrib, apalagi bagi seorang calon bapak.
Seorang calon bapak melantunkannya disamping istrinya yang sedang
mengandung jabang bayi. Nilai-nilai etika dan estetika yang tinggi
sekali, kasih sayang dijalin oleh seorang bapak dan ibu tradisional.
Sebagai sebuah tanggung jawab yang tinggi kepada Sang Pencipta,
akan berkah Nya dalam bentuk karya cipta sexualitas manusia yaitu
calon manusia. Barangkali pada masa kini akan dianggap ‘ out
of date ‘ oleh masyarakat modern. Namun perlu dicoba oleh
keluarga muda dan modern, apakah pada masanya nanti anak tersebut
akan menjadi sosok manusia yang “
wiji pinilih “ ?. Tidak ada sebuah bukti
yang bisa diraih tanpa mencobanya, dengan maksud bukan untuk coba-coba.
Kecanggihan teknologi yang demikian pesat, patut dijadikan sebagai
sebuah alat. Cukup dengan sebuah CD player, mengosongkan segala
pikiran, memfokuskan diri pada Sang Pencipta, mohon ampun kepada
NYA dan menyerahkan seluruh jiwa, raga serta kehidupan dalam tangan
NYA.
Dengan sikap yang baik dan rileks mulai mendengarkan tembang, serasa
dibawa melayang jauh keatas pada sebuah tempat yang terang, damai
penuh ketenangan. Di situlah langit sap tujuh itu berada. Apapun
yang dijumpai ketika mendengarkan dalam posisi tersebut dan memejamkan
mata, bukanlah sebuah ilusi atau halusinasi bahkan obsesi. Semua
itu adalah bahasa alam, alam semesta yang baik dan benar mencoba
bersahabat dan bertutur kata pada diri manusia. Bisa juga dilakukan
secara berkelompok atau bersama-sama dalam sebuah ruangan yang bersih
dan harum. Tata cara tradisional ini, akan sangat bermanfaat bagi
manusia yang mengalami kepenatan berfikir pada setiap harinya. Setelah
melakukan dan mendengarkan tembang ini akan terasa ringan dan enteng
ditubuh, terasa tenang di hati, terasa tenang pula dalam pola pikir.
Tempat dimana kita melakukan itupun akan berdampak bersih dari atmosfer
negatif. Sehingga tercapai sehat jiwa, sehat raga, sehat pola pikir
dan sehat papan.
Tertantang untuk mencoba……? Silahkan..apapun yang hendak
dikonsultasikan silahkan menulis e-mail pada website ini….
|