Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 
 Klinik Bagaskara 

 
 
Home > kesehatan> klinik bagaskara > Profil Usaha

 

LATAR BELAKANG


Dalam kehidupan setiap manusia, faktor kesehatan menjadi sebuah hal penting dalam kehidupan itu. Gangguan kesehatan, merupakan sebuah gangguan dan hambatan bagi setiap manusia dalam menjalankan setiap aktifitas kehidupannya. Sehingga Kesehatan fisik maupun psikis, menjadi sebuah hal yang utama. Gangguan kesehatan secara fisik maupun psikis, pada dasarnya disebabkan oleh 3 hal yaitu :

  1. Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh " Sukerto ", adalah buah karma yang didapat dari garis keturunan keatas dan perilaku diri sendiri. Dalam kehidupan masyarakat jawa dikenal dalam bentuk
    " kala " dan " mala ". Kala dalam aplikasi kehidupan berupa terhambatnya perjalanan kehidupan oleh rintangan-rintangan yang mengakibatkan perjalanan hidup tidak seperti yang diharapkan. Sedangkan mala dalam aplikasinya berupa gangguan kesehatan secara kejiwaan/ psikis maupun fisik, yang sulit disembuhkan
  2. Gangguan kesehatan baik fisik maupun psikis, yang diakibatkan oleh karena perbuatan atau perilaku orang lain. Hal ini biasa terjadi oleh karena rasa dendam, iri, sirik dan lain sebagainya. Tujuannya adalah agar si penderita tidak mampu berbuat banyak dalam kehidupannya.
  3. Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh karena tidak optimalnya fungsi organ tubuh dan regenerasi sel akibat konsumsi makan yang tidak teratur dan memiliki kandungan bahan-bahan kimia yang merugikan bagi setiap sel dalam tubuh manusia.

Ketiga penyebab gangguan kesehatan ini banyak dijumpai pada kehidupan masyarakat. Dalam mana tidak semua mampu ditangani oleh tenaga medis dan di terapi secara ilmiah dan medis. Pada kenyataan pengobatan tradisional merupakan sebuah upaya mencapai kestabilan kesehatan dan banyak diminati masyarakat luas, walau perkembangan teknologi dan jaman berkembang dengan pesat. Tradisional merupakan cultur budaya masyarakat jawa yang perlu dilestarikan dan di tumbuh kembangkan. Ditambah kecenderungan dunia global kembali pada tradisional, dengan dideklarasikan nya " Back To Nature ".

  • SEGMENTASI
    Pria dan wanita pada semua golongan usia, dalam mana mereka meyakini dan percaya pada metode tradisonal.
  • METODE PENYEMBUHAN
    1. Analisa dengan metode peneropongan kejiwaan/ psikis dalam hal situasi, kondisi dan posisi kejiwaan penderita.
    2. Analisa dan penelitian dengan metode peneropongan pada dampak-dampak yang terjadi pada penderita.
    3. Analisa dan penelitian dengan metode peneropongan guna mencari akar/ penyebab gangguan pada penderita.
      Dari hasil analisa dan penelitian diatas yang didokumentasikan, kemudian dilakukan terapi atau penerapan solusi secara alami.
    SISTEM / METODE TERAPI
    1. Jika gangguan kesehatan disebabkan oleh " Sukerto ", maka dilakukan terapi " Ruwatan " dengan menggunakan kemampuan spiritualitas tinggi.
    2. Jika gangguan kesehatan disebabkan oleh karena perbuatan atau perilaku orang lain, menggunakan terapi mencabut dan membersihkan gangguan tersebut. Metode yang digunakan adalah pemanfaatan delapan energi alam / hastabrata.
    3. Jika gangguan kesehatan disebabkan oleh karena tidak optimalnya fungsi organ tubuh, menggunakan terapi tranfer delapan energi alam dan penggunaan ramuan jamu dari bahan-bahan organik ( dijelaskan dan dirinci tersendiri ).
  • TEMPAT DAN WAKTU KEGIATAN
    Tempat : Jl.Empu Tantular 41, Perum Songgolangit Gentan Sukoharjo
    Waktu : Setiap hari kerja
    Pagi jam  : 10.00 - 13.00
    Sore jam : 17.00 - 20.00

  • TENAGA AHLI / SUMBER DAYA MANUSIA
    Pembina / Sesepuh : Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito
    ( Gopal Tolani, SH )
    Penanggung Jawab : Rachmat Alfajar, SPsi ( Ki Mayang Seto )
    Tenaga Ahli : Rachmat Alfajar, SPsi

 

SEJARAH RAMUAN JAMU


Jamu merupakan karya " Local Genius ", yang dikembangkan oleh para empu-empu jamu pada masanya. Pada masa akhir kerajaan Majapahit, Sang Prabu Brawijaya Pamungkas melakukan perjalanan ke gunung Lawu dalam rangka refleksi diri dan meletakkan mahkota. Dalam kaitan tersebut diikuti oleh para brahmana dan empu-empu yang setia kepada beliau. Diantara nya Empu Bendho dan Empu Rama yang ahli dalam meramu jamu. Kedua Empu tersebut tinggal di kawasan ' Hargo Tiling ' sekitar puncak gunung lawu. Hingga Sekarang kawasan tersebut masih banyak tanaman bahan jamu yang sangat tinggi khasiat materiilnya. Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito, sejak tahun 1985 mendalami spritualitas dikawasan lawu. Bahkan pada masa antara Maret 1987 hingga September 1988 tinggal diantara bukit-bukit dan tempat-tempat disekitar puncak lawu. Pada Masa itu pula Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito belajar pada leluhur-leluhur di kawasan Lawu secara imaginer. Guru-guru spiiritual yang terdiri dari roh-roh suci para brahmana dan empu majapahit, mengajarkan tentang bagaimana hidup sehat dengan cara tradisional. Proses belajar selama dua puluh tahun dari guru-guru spiritual tersebut, akhirnya dikembangkan dan diamalkan dengan mendidik SDM dan meramu jamu. Jamu ramuan lawu adalah harta karun yang terpendam diantara perbukitan lawu, lebih tepat disebut sebagai ' Mustika Lawu '. Jamu ramuan Lawu karya Empu Bendho dan Empu Rama memiliki kemampuan dan kekuatan materiil dan imateriil. Dapat dilihat dari metode meramu nya menggunakan ritual, sebagaimana seorang empu membuat sebuah pusaka keris atau tombak.


CARA MERAMU JAMU


Bahan jamu didapat dari empon-empon dan tanaman yang berupa biji, daun dan akar. Bahan-bahan ini didapat pada toko bahan-bahan jamu dengan mudah dalam bentuk serbuk / bubuk atau tepung. Bahan yang bersifat materiil ini punya khasiat sendiri-sendiri, dalam mana banyak diketahui oleh masyarakat tradisional. Sehingga meramu jamu dengan pola pikir " Zero Emition Concept ", yang tidak memiliki limbah. Setelah bahan-bahan jamu didapat dari toko-toko bahan jamu, maka proses berikutnya adalah peramu melakukan perjalanan spiiritual dengan " Laku ". Ritual atau laku dilakukan selama tiga hingga tujuh hari, dengan maksud memohon campur tangan besar Sang Pencipta dalam meramu jamu tersebut.
Apapun wujud karya manusia yang melibatkan tangan besar Sang Pencipta, akan memiliki nilai-nilai etika dan estetika antara alam, manusia dan Sang Pencipta. Inilah yang menjadi dasar manusia Jawa memiliki kemampuan " Local Genius ". Cara memproses dan meramu jamu yang diawali dengan ritual demikian tentu akan berpengaruh pada khasiat ramuan jamu tersebut. Sehingga Jamu memiliki kemampuan dan kekuatan materiil dan imateriil. Pada tahapan berikut adalah meramu dengan mengaduk atau mencampur bahan-bahan jamu didalam wadah plastik yang bersih. Secara manual diaduk dengan pengaduk kayu ( enthong ). Dalam proses mengaduk peramu masih menggunakan ritual atau doa-doa permohonan pada Sang Pencipta, agar jamu tersebut memiliki khasiat yang luar biasa oleh karena campur tangan Sang Pencipta. Ramuan disimpan dalam toples kaca yang bersih dan tertutup.
Proses berikutnya adalah pengemasan, jamu dikemas dalam dua bentuk untuk di konsumsi. Yang pertama dalam bentuk seduhan, diperuntukkan bagi masyarakat kecil yang merasa nikmat dan puas minum jamu dengan diseduh. Dalam mana dicampur dengan kuning telor ayam kampung, madu, jeruk nipis dan gula jawa aren sebagai campuran lain menurut selera konsumen. Kedua dalam bentuk capsule, dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan dan modern. Hal ini karena tidak terbiasa minum jamu seduhan. Proses pengemasan dilakukan dengan manual tanpa bantuan mesin kecuali pada seduhan menggunakan las plastik listrik.

 

SISTEM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

 

  1. Peserta pendidikan dan pelatihan ditentukan oleh sebuah niat kuat, kesadaran akan melestarikan budaya, memahami arti budaya adalah nilai-nilai etika dan estetika antara alam, manusia dan Sang Pencipta. Pemahaman tersebut diberikan oleh Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito.
  2. SDM yang mengikuti pendidikan dan pelatihan dibersihkan jiwanya dari kekotoran jiwa akibat sukerta.
  3. SDM yang mengikuti pendidikan dan pelatihan diajarkan " Samadi ", melepas jiwanya naik ke langit sap tujuh agar mampu mendekat pada tempat yang terdekat dengan Sang Pencipta dan mengenal roh-roh suci. Dengan demikian SDM akan diberi kemampuan menurut kehendak Sang Pencipta.
  4. SDM peserta pendidikan dan pelatihan diajarkan berinteraksi dengan delapan kekuatan alam atau " Hastabrata ", dengan berinteraksi dan menyatu pada kekuatan alam tersebut. Diharpkan SDM mampu memanage delapan kekuatan alam tersebut menjadiu sebuah daya dan kekuatan dirinya. Kesadaran bahwa manusia hidup ditopang oleh alam dan perlu adanya sebuah interaksi dengan alam dengan nilai-nilai etika dan estetika. Sehingga SDM mampu membedakan antara alam bawah ( buruk / atmosfer negatif ) dan alam atas ( baik / atmosfer positif ).
  5. Pendidikan dan pelatihan diberikan langsung oleh Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito di setiap hari Kamis dan Minggu malam. Selama kurun waktu yang tidak bisa ditentutkan oleh waktu, kecuali oleh sebuah niat yang kuat dan tekad yang bulat. Sehingga SDM tidak memerlukan alat bantu dalam melakukan pengobatan kecuali kemampuan dalam dirinya yang didukung alam dan campur tangan besar Sang Pencipta ( Optimalisasi ' jagat cilik ' ).
  6. Dengan ketekunan dan kesabaran serta kemampuan melepas jiwa naik ke langit sap tujuh, SDM akan mampu meneropong segala hal yang positip dan negatif dalam setiap insan manusia. Apa yang yang mampu ditangkap oleh X-ray, akan mampu ditangkap oleh ketajaman SQ SDM. Sehingga SDM yang terdidik dan terlatih memiliki kemampuan ' Local Genius '.
  7. Dengan dasar-dasar pelatihan dan pendidikan tersebut, SDM akan mampu memiliki kedisiplinan, kredibalitas, kecintaan terhadap seluruh ciptaan Sang Pencipta, bersikap lugu dan jujur. Hal tersebut menjadi sebuah bekal Nasionalisme, menghargai dan melestarikan karya-karya leluhur, menjunjung tinggi budaya bangsa sendiri dengan tidak meninggalkan pola hidup sederhana dan tradisional.

PENUTUP

Manusia Jawa adalah manusia yang paham akan nilai-nilai etika dan estetika antara alam, manusia dan Sang Pencipta. Yang pernah tumbuh berkembang dan mengalami keemasan pada masa Majapahit yang meliputi kawasan Nusantara ( sekarang Asean ). Kecenderungan dunia ' Back To Nature ' dan berlomba mencari sistem pengembangan SQ, akan menjadi sebuah tantangan bagi manusia Jawa yang hidup di kawasan Surakarta. Dunia mengenal kawasan Surakarta sebagai ' Center of World Culture ', sebuah tantangan berat untuk mewujudkan nya. Tanpa sebuah tekad yang tinggi dan kemauan keras untuk mewujudkannya, mustahil harapan tersebut akan terwujud. Oleh karena Pemerintah adalah pemegang kekuasaan materiil, maka kewajiban Pemerintah untuk mensuport dan mefasilitasi tumbuh-kembangnya pengobatan tradisional beserta penunjangnya. Tidak mustahil pengobatan tradisional dengan ramuan jamu akan mampu berkompetisi dalam globalisasi. Akankah manusia jawa mampu mewujudkan keinginan dunia…? Semoga…!


 
 
KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Batik Karaton
   Gamelan
   Keris
   Bre Cake & Snack
KIOS B
   
   
   
   
   
   
KIOS C
   
   
   
   
   
   
 
   
Kami mengharapkan kritik dan saran guna perkembangan pasarjava
Apabila anda ingin memberi masukan silahkan kirim ke alamat kami di
info@pasarjava.com

Sebelumnya kami ucapkan banyak terimakasih.

Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian