|
PRODUCT PROFILE JAMU MUSTIKA LAWU
LATAR
BELAKANG
Pada pertengahan abad 15, di masa-masa akhir kerajaan Majapahit
dengan raja terakhir dikenal sebagai Prabu Brawijaya V, atau lebih
dikenal sebagai Prabu Brawijaya Pamungkas. Raja bersama keluarga
dan pengikut-pengikut setianya meninggalkan keraton menuju kawasan
gunung Lawu. Diantara pengikut-pengikut yang terdiri dari para brahmana,
para empu dan senopati serta keluarga, terdapat empu jamu yang bernama
Empu Bendho dan
Empu Rama. Kedua empu tersebut membawa kegeniusan
meramu jamu beserta bibit tanaman jamu ke kawasan " Hargo
Tiling " gunung Lawu. Sebagaimana seseorang memegang jabatan
empu, tentu memiliki kemampuan " local genius ” dalam
bidang masing-masing. Kemampuan menyatukan kekuatan imateriil dan
materiil dalam sebuah karyanya, adalah tuntutan bagi manusia pada
masa itu yang memiliki sebutan atau jabatan empu. Hal ini menunjukkan
tingkat spiritualitas seorang manusia dalam berkarya dengan melibatkan
“ Tangan Besar Sang Pencipta ". Hal ini juga
menunjukkan kedekatan manusia kepada Sang Pencipta, sehingga tidak
mustahil karya-karyanya tidak akan hilang begitu saja.
Seorang anak bangsa yang terlahir di kota Surakarta bernama
“ Gopal “, oleh daya magnit gunung Lawu mengembara
diantara bukit-bukitnya. Daya tarik alam yang terjadi di awal 1985,
menjadi sebuah perjalanan spiritualnya. Belajar dari alam dan dialog
imajiner dengan roh-roh suci para empu dan brahmana di kawasan gunung
Lawu, Gopal menjadi " Ki Ageng Panembahan
Darmo Sasmito “. Gelar dan nama Diberikan oleh
alam dan leluhur yang tinggal di kawasan Lawu tersebut. Selama dua
puluh tahun Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito, meningkatan spiritualitas
dan belajar berbagai ilmu tradisional peninggalan Majapahit. Salah
satu diantaranya adalah meramu jamu, dimana jamu adalah sebuah “
Local Genius ". Karya leluhur yang adi luhung perlu dilestarikan
dan ditumbuh kembangkan, walau jaman telah mengalami perkembangan
yang pesat.
Bertolak dari kerangka pemikiran tersebut, Ki Ageng Panembahan
Darmo Sasmito memandang perlu mensosialisasikan jamu ramuan Majapahit,
yang dikenal sebagai “Mustika Lawu", karya-karya Empu
Bendho dan Empu Rama dalam masa kini. Dimana dunia rnengisyaratkan
" Back To nature ".
Dasar-dasar itu menjadi sebuah fenomena bahwa karya-karya leluhur
tak kan lekang ditelan jaman, bahkan akan mampu berkiprah dalam
kompetisi global. Dengan berpijak pada "Hidup
sehat dengan cara tradisional".
Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito memandang perlu rnenyuarakan dan
mensosialisasikan:
" Budayakan hidup sehat dengan tradisi
minum jamu ”.
PROSES MERAMU
JAMU
Dalam meramu jamu " Mustika Lawu ",
melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
- Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito, melakukan ritual spiritual
selama tujuh hari guna rnernbersihkan diri baik jiwa maupun raga.
Bertujuan mampu mencapai sebuah tempat yang terdekat dengan Sang
Pencipta, dalam mana posisi tersebut ditentukan oleh Sang Pencipta.
- Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito, mengumpulkan bahan-bahan
jamu yang hendak diramu. Kembali melakukan ritual spiritual selama
tiga hari, memohon kepada Sang Pencipta agar bahan jamu tersebut
dijamah oleh Kekuasaan Sang Pencipta. Bahan apapun yang terjamah
oleh Kekuasaan Sang Pencipta akan memiliki nilai plus dan kekuatan
imateriil. Disini menunjukkan melibatkan Tangan Besar Sang Pencipta,
dalam sebuah karya duniawi. Harapannya akan berrnanfaat besar
bagi semua ciptaan Nya yang mengkonsurnsi jamu yang hendak diramu.
- Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito, meramu jamu dengan cara
manual. Setelah selesai ramuan tersebut, kembali Ki Ageng Panembahan
Darmo Sasmito mengucap syukur kepada Sang Pencipta dalarn sebuah
ritual spiritual selama satu malam. Ramuan telah selesai tinggal
mengemas dalam kemasan.
- Dalam masa kekinian, bentuk capsule merupakan pilihan yang
paling sederhana dan dapat dikerjakan secara manual. Sehingga
dapat menampung tenaga kerja di masa mendatang, guna menciptakan
lapangan kerja dan keadilan sosial bagi masyarakat. Disamping
itu mengajarkan rnencintai dan rnenghormati karya leluhur. Bagi
konsumen juga Iebih mudah dan effisien dalam mengkonsumsi jamu.
PRODUCT JAMU
Jamu Mustika Lawu pada saat sekarang di produksi hanya dalam dua
macam produk, yaitu:
- SATRIA, diproduksi
dan diramu untuk mengobati sakit-sakit Kencing manis, Kolesterol
dan Asam urat, yang pada akhirnya akan berujung pada impotensi
oleh karena tiga jenis penyakit yang diderita tersebut. Jamu ini
diperuntukkan bagi kaum lelaki dari usia remaja hingga lansia.
- PAWESTRI ,
diproduksi dan diramu untuk mengobati sakit-sakit Kencing
manis, Kolesterol dan Asam urat pada wanita yang berujung pada
gangguan menstruasi pada masa produktif, dan gangguan rahim pada
masa menopause.
- Jenis produk lain akan diproduksi pada masa mendatang adalah
untuk menghancurkan lemak dalam tubuh dan kanker.
PENGOBATAN DAN PERAWATAN
Jamu diramu dari bahan-bahan organik, tentu tidak akan sama dengan
obat-obat lain yang diramu dari bahan-bahan kimia. Dalam pengobatan
sakit menggunakan jamu melalui sebuah proses, sebagaimana proses
sebuah janin menjadi bayi dan lahir, sebagaimana proses seorang
bayi menjadi dewasa. Proses alami ini termasuk didalamnya adalah
regenerasi sel dalam organ-organ tubuh manusia, setelah menetralkan
racun-racun yang beredar dalam jaringan sel maupun darah manusia.
Proses pengobatan untuk jenis- jenis penyakit yang dimaksud bisa
berlangsung antara 6 - 8 bulan. Karena jamu ini memiliki kekuatan
dan kemampuan " Imaterill dan Materill ",
dianjurkan dalam mengkonsumsi jamu tidak meninggalkan memohon kepada
Sang Pencipta untuk diberi kesembuhan.
Cara yang paling sederhana adalah ketika setelah meminum jamu in
duduklah dengan rileks tanpa ada ketegangan. Pandangan kedepan dan
pejamkan kedua mata, kemudian fokuskan dan konsentrasi diantara
kedua alis. Kosongkan pikiran arahkan segalanya kepada Sang Pencipta.
Dalam hati mohonlah ampun pada Sang Pencipta, dalam hati pula serahkan
segala kehidupan kepada Sang Pencipta, dan yang terakhir mohonlah
kesembuhan. Setelah terucap dalam hati, kosongkan segalanya dan
rileks hingga mencapai sebuah kepuasan tanpa ada batasan waktu yang
ditentukan. Namun demikian biasanya hanya berkisar sekitar 4 - 5
menit. Hal ini akan membantu proses kesembuhan Iebih cepat dari
sekitar 6 - 8 bulan. Hanya Sang Pencipta yang menentukan berapa
lama akan sembuh. Dalam proses penyembuhan mengkonsumsi jamu empat
kali sehari satu capsule, sedangkan untuk perawatan cukup sekali
atau dua kali sehari satu capsule. Sedangkan proses penyembuhan
yang terjadi dalam tubuh melalui tahapantahapan sbb:
- Menetralkan asam lambung sebagai bagian dari sistem pencemaan,
kemudian ginjal dan pankreas serta organ-organ lain yang menjadi
mesin-mesin yang menghasilkan racun dan jenis penyakit yang diderita.
Dampaknya agak mual, sering buang air kecil, banyak keluar keringat
dan badan terasa enteng.
- Setelah organ-organ sebagai mesin ini dibersihkan dari racun-racun
yang mengakibatkan penyakit, jamu akan bereaksi dalam saluran
darah. Mengikis semua penyumbatan dan kandungan racun-racun yang
membahayakan atau menimbulkan penyakit.
- Guna mengetahui proses ini lebih lanjut, disarankan untuk ke
laboratorium untuk pengecekan.
PERTIMBANGAN
EKONOMI
Jika proses penyembuhan berlangsung antara 6 - 8 bulan maka dapat
dilihat kebutuhan dana yang dibutuhkan, dalam tabel dibawah ini
:
| |
1
bulan |
6
bulan |
8
bulan |
| Penyembuhan |
270.000 |
1.620.000 |
2.160.000 |
| Perawatan |
135.000 |
810.000 |
1.080.000 |
Dengan asumsi harga Rp.90.000,- per botol. Isi 40 Capsule untuk
P.Jawa Harga Rp. 100.000,-
per botol untuk luar P.Jawa.
Dari table diatas dapat dibandingkan dengan sistem penyembuhan
dan perawatan yang lain. Sehingga setiap calon konsumen jamu Mustika
lawu dapat membandingkan dengan sistem lain. Kemerdekaan dan kebebasan
rnemilih ada pada calon konsumen.
PENUTUP
Tidak ada satu manusiapun yang menginginkan menderita sakit, pada
dasarnya menderita sakit sangat rnengganggu kelangsungan hidup.
Namun adi kodrati hidup manusia tidak lepas dari nilai-nilai etika
dan estetika antara manusia, alam dan Sang Pencipta. Interaksi tersebut
merupakan sebuah tradisi dan bahkan budaya manusia secara universal.
Gangguan dalam interaksi antara manusia, alarn dan Sang Pencipta,
akan berdampak hidup yang tidak sehat. Oleh karenanya perlu menjaga
dan melestarikan interaksi antara manusia, alam dan Sang Pencipta
dengan baik dan benar. Dengan begitu manusia dapat menjalani hidup
sehat dengan cara tradisional, dengan tidak meninggalkan keyakinan
masing-masing pada Sang Pencipta. Semoga...
" BUDAYAKAN HIDUP SEHAT DENGAN TRADISI MINUM JAMU "
Rahayu. . . Rahayu. . . Rahayu...
KI AGENG PANEMBAHAN DARMO SASMITO
|