|
Senin, 29 Juni 2009
PEMIMPIN PERUBAHAN BERKARAKTER NUSANTARA
Bima Rama
GAGASAN DAN KONSEP SANG PRABU BRAWIJAYA V SEJAK ABAD 15
Oleh : P. Budda Handayaningrat
Sudah menjadi tradisi bagiku, bahwa setiap Kamis sore sekitar pukul 16.00 aku melakukan sebuah tradisi “ Caos Dahar “. Hal ini aku lakukan sejak aku pulang dari Jakarta dan menetap di Sala di tahun 1999. Kenangan kehidupan Ibukota , bergumul dengan berbagai tokoh nasional aku tinggalkan. Aku sangat dekat dengan Almarhum Bp. Widodo Gondowardojo, SH, ketika itu menjabat sebagai Sekretaris Menteri Sekretaris Negara . Beliau tidak ubahnya seperti seorang kakak dan seorang bapak bagiku. Pertalian rasa kebatinan itu, tidak mungkin bisa punah begitu saja, hingga kini. Barangkali itu tumbuh karena sejak usia 10 tahun, aku sudah ditinggal bapak kandungku. Sehingga rasanya aku kehilangan figur seorang “ Bapak “. Beliau menjabat sebagai Sekretaris Menteri selama pergantian tiga Menteri Sekretaris Negara. Tiga menterinya adalah Bp. Moerdiono, Bp. Saadilah Mursid dan Bp. Ir. Akbar Tanjung.
Caos Dahar adalah sebuah tradisi “ jawa “, hakekatnya adalah berdialog dan bersilaturahmi dengan leluhur dan penggerak alam . Setelah itu, bersama-sama melakukan “ Sujud “ di hadapan Sang Pencipta yang menciptakan Jagat Raya dan seluruh isinya. Ada beberapa saudara kandungku melihat tradisiku ini, sebagai sebuah kegiatan bersekutu dengan “ Jin – Kemit “ yang mengarah pada ‘ musrik ‘ . Aku bisa pahami tuduhan itu, sebab mereka tidak mampu dan punya kebisaan melihat secara jelas aku bersama dengan siapa dan sedang berbuat apa ?. Bagiku tuduhan itu sah-sah saja. Toh, sebagai seorang Advokat aku paham bahwa “ Barang siapa mendalilkan, haruslah membuktikan “, begitu pula dengan tuduhan itu harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Sang Pencipta. Aku memiliki keyakinan pribadi, bahwa hubungan, interaksi dan tanggung jawabku sebagai manusia kepada Sang Pencipta ada dalam pribadiku sendiri. Tidak mungkin aku ke Surga dengan naik “ Bus Pariwisata “ bersama orang lain atau saudara, bahkan anak. Sebab untuk kesana haruslah melalui “ Sirotoll mustaqim “. Ketika caos dahar inilah aku bertemu dengan bapak-ibu kandungku dan bapak-ibu mertuaku dan leluhur-leluhur diatasnya hingga “ Bapa Lawu “, pemegang tongkat “ Sapu Jagat “ simbol kekuasaan tertinggi alam wilayah Nusantara. Mungkin semacam keyakinan dunia barat akan “ Dewa Zeus “. Kamis sore kemarin, Bapa Lawu perintahkan aku untuk berdialog khusus dengan Sang Prabu Brawijaya V, yang juga leluhurku dari ibu kandungku maupun bapak-ibu mertuaku.

Sebelum aku menulis segala hasil dialogku dengan Sang Prabu Brawaijaya V, barangkali perlu aku jelaskan bagaimana dan dari mana silsilah aku. Bapak kandungku adalah keturunan “ Brahmana Lawu “ yang punya garis turun langsung dari Bapa Lawu, kakek moyangnya pada abad 6 melakukan perjalanan dari Lawu ke utara, hingga menetap di tepi sungai Sind Heiderabad India ( kini menjadi wilayah Pakistan ). Pada tahun 1902, sebagai anak remaja bapakku mendarat di Batavia untuk mewujudkan keinginan kakekku kembali pulang ke tanah jawa dan lawu. Sejak India merdeka, bapakku dalam hukum administrasi negara dinyatakan berwarga negara India. Tentu tidak ubahnya orang jawa yang kini tinggal di Suriname dan berwarga negara Suriname. Bapak kandungku berhasil pulang ke tanah jawa dan menetap di Sala pada tahun 1942, kemudian bersahabat dengan salah satu putra swargo SISKS. Pakoe Boewono X ( KGPH. Hadiwidjojo ). Ibu kandungku terlahir di desa Tambar kecamatan Jogoroto kabupaten Jombang. Ibu kandungku terlahir dari Kakek yang berasal dari Bangkalan Madura, yang punya garis turun dari Cakraningrat II. Sedang Nenekku asli dari desa Tambar yang punya garis turun langsung dari Sang Prabu Brawijaya IV. Aku...
|
hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ] [ 5 ] [ 6 ] [ 7 ] [ 8 ] [ 9 ] [ 10 ]
|
|
|