Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 

P. Budda Handayaningrat
 
 
 
Home > Pengetahuan > Artikel

- halaman 1 -

hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ]

Senin, 04 Mei 2009

GAJAH MADA ABAD MILLENIUM

Oleh : P. Budda Handayaningrat

 

Barangkali kita sedikit ingat cerita sejarah Majapahit tentang munculnya Gajah Mada, seorang bhayangkara pengawal raja yang melejit karirnya menjadi Mahapatih. Banyak versi sejarah di tulis dengan berbagai pendekatan penelitian buku-buku maupun artefak-artefak yang di tinggalkan. Namun aku lebih suka menulis dengan pendekatan penelitian materiil dan imateriil. Terlebih dengan pendekatan imateriil sebenarnya adalah sebuah kemampuan menjelajah alam waktu. Pada dunia perfilman internasional seperti di kenal dengan judul “ Time Tunel “. Boleh saja pembaca tidak percaya dengan apa yang aku tulis, sebab itu kemerdekaan jiwa pembaca. Tapi juga boleh kan, jika pembaca meyakini dan percaya dengan apa yang aku tulis. Sebab aku berusaha untuk “ Lugu dan Jujur “, apalagi berkaitan dengan sejarah leluhur.

Majapahit di dirikan oleh R.Wijaya bertujuan membawa masyarakat tanah jawa untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran dengan jatidiri sendiri, tanpa harus mengikuti pola pikir bangsa Mongol. Setelah R.Wijaya wafat, Majapahit di pimpin oleh menantunya raja ‘ Kalagemet ‘ suami dari ‘ Tribuana Tungga Dewi ‘. Pada masa ini, sang raja tidak serius memperhatikan rakyatnya. Justru terlena dengan kedudukannya sebagai raja. Sementara pengikut setia R.Wijaya menilai bahwa Kalagemet sudah melenceng dari cita-cita pendiri Majapahit. Selalu lamban dalam memberi keputusan. Akibatnya sebagai raja ‘ pengayom ‘ masyarakat tidak lagi mampu menjadi pengayom. Rakyat menikmati kekacauan ekonomi, peraturan saling tumpah tindih diantara menteri, ketidak adilan semakin merajalela, bencana demi bencana selalu terjadi. Oleh karena raja lamban dalam membuat keputusan dan rakyat semakin terpuruk, maka alam berbicara dalam berbagai bencana alam. Alam negatip semakin mempengaruhi karakter manusia dan pemimpin. Baik birokrasi, prajurit, bhayangkara, adhiyaksa dan hakim-hakim ketika itu. Seluruh elemen masyarakat hanya berfikir tentang kepentingan pribadi atau kelompok. Karena alam kerajaan, maka mudah terjadi pemberontakan yang di prakarsai oleh senopati Kuti dan senopati Semi. Raja dan keluarga berhasil diselamatkan oleh bhayangkara pengawal raja dengan keluar dari istana. Pada masa itu putra Kalagemet dengan Tribuana Tungga Dewi baru berusia 4 tahun. Putra ini bernama “ Hayam Wuruk “. Ada banyak pemikiran dan anggapan bahwa Hayam Wuruk adalah putra Tribuana Tungga Dewi yang berselingkuh dengan Gajah Mada. Aku sering mendengar hal itu, begitu sedihnya aku jika ada pendapat demikian.

Dalam pengasingan Kalagemet meninggal akibat stress yang menjadi penyakit, menurutku sakitnya adalah sebuah ‘ ganjaran ‘ atau ‘ hukuman alam ‘ karena sebagai pengayom rakyat tidak menjalankan misinya dengan baik dan benar. Akhirnya Kalagemet wafat. Lagi-lagi Gajah Mada di tuduh membunuhnya untuk memiliki Tribuana Tungga Dewi dan tuduhan terobsesi meraih kekuasaan. Gajah Mada adalah seorang putra Brahmana yang hidup di lereng gunung Brama, desa tempat tinggalnya sekarang disebut sebagai Mada Karipura. Gajah Mada mengabdi di Majapahit, barangkali sekarang berpangkat sersan ketika mulai mengabdi. Sejak jadi bhayangkara, Gajah Mada di tugaskan menjaga Hayam Wuruk. Ketika Kalagemet wafat, hal ini dirahasiakan. Kemudian Tribuana Tungga Dewi menjadi ratu di pengasingan sebagai pengayom. Sebagai pengayom beliau harus mendekatkan diri pada Sang Pencipta, agar Majapahit kembali terang dari kegelapan. Karena Gajah Mada yang paling tinggi pangkatnya diantara para bhayangkara pengawal raja yang berjumlah ‘ sak bergada ‘ ( 40 orang ). Maka Gajah Mada di perintah Tribuana Tungga Dewi untuk masuk ke kerajaan melakukan tugas intelejen.

Ringkas cerita, Gajah Mada mampu mengumpulkan senopati-senopati ( jendral – jendral ) yang setia pada kerajaan dan mendiang R.Wijaya. Gajah Mada mampu mengalahkan Kuti dan Semi serta seluruh koalisinya. Tribuana Tungga Dewi, kembali ke kerajaan dan negara menjadi terang kembali. Perekonomian berjalan dengan baik, benar dan lancar. Bencana alam mereda, alam memberi dukungan sehingga kekayaan alam bisa dinikmati oleh rakyat. Gajah Mada dididik oleh ayahnya seorang brahmana sehingga memiliki 15 Karakter dalam jatidirinya. Sebagaimana di tulis juga dalam Negarakertagama karya Empu Prapanca. Yang kemudian di tulis dalam bahasa yang mudah di pahami oleh Muhammad Yamin dalam Cetakan ke VII tahun 1972. Lima belas karakter Gajah Mada tersebut adalah :

 

- halaman 1 -

hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ]

 

 
Back to Top

KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Batik Karaton
   Gamelan
   Keris
   Bre Cake & Snack
KIOS B
   
   
   
   
   
   
KIOS C
   
   
   
   
   
   

   
 
Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian