Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 

P. Budda Handayaningrat
 
 
 
Home > Pengetahuan > Artikel

- halaman 1 -

hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ]

Minggu, 14 Juni 2009

MEMBANGUN NEGARA
(Nata Nagoro)
DARI KACAMATA SWARGO SISKS. PAKOEBOEWANA IX
DAN SWARGO KGPAA. MANGKOENAGORO IV

Oleh : P. Budda Handayaningrat

 

Kamis, tanggal 11 Juni 2009 di tengah malam, aku meminta waktu khusus berdialog dengan dua tokoh panutan di wilayah sala. Beliau adalah Swargo SISKS. Pakoeboewana IX , dengan ciri khas ujung kedua alisnya keatas dan bertindik berlian kuning di telinga kirinya, dan Swargo KGPAA. Mangkoenagoro IV dengan ciri khas senyumnya. Ada yang menggelitik rasa kebatinanku, tentang keyakinan masyarakat bahwa Solo ( baca wilayah Soloraya ) menjadi “ sumbu pendek “ politik nasional. Aku ingin mendengar dari beliau langsung mengapa bisa terjadi seperti itu ?. Kemudian apakah situasi dan kondisi politik tahun 2009 ini, solo juga akan berpengaruh pada nasional sebagai makro ?. Jujur saja, walaupun aku dulu dikenal sebagai ‘ menantu sah ‘ SISKS. Pakoeboewana XII, dan secara hukum alam dan leluhur itu masih. Namun secara hukum positip pertalian dengan kerabat keraton sala telah terputus. Pertalian itu ada hanya ada dengan ketiga anakku yang sering aku sebut sebagai Kencono Ayu, Bre Wirabumi dan Bre Kumara. Sementara hubunganku dengan leluhur Puro Mangkunegaran, terjalin oleh karena ketika tahun 1993 – 1996, aku melaksanakan dhawuh leluhurku di lawu untuk menciptakan rekonsiliasi kerabat Mangkunegaran bersama Ir. Soerarmo ( Ketua HKMN waktu itu ) dan Ir . Darma Tyanto Saptadewa ( Cucu Eyang Sarsito ). Sejak itu hubunganku dengan leluhur Mangkunegaran sangat dekat. Kenapa pertalianku terputus dengan keraton sala secara hukum positip ?. Ini perlu jawaban jujur atas pandangan pribadiku. Ketika setelah SISKS. Pakoeboewana XII surut ( mangkat ), istriku dengan dukungan saudara-saudaranya mengajukan gugatan cerai di Peradilan Agama Surakarta. Karena aku tidak diijinkan menghadiri peradilan tersebut oleh “ Bapa Lawu “ ( masyarakat sering menyebut sebagai Eyang Lawu ). Hasilnya adalah putusan verset tanpa ikrar talak. Barangkali, jika di pandang secara manusia aku ini sangat kejam menggantung putusan tersebut tanpa ikrar talak .

Aku dihadapkan sebuah dilema antara mengikuti kehendak manusia dan kehendak leluhur. Sebagai pribadi harus tegas, seperti kehendak leluhur. Badai dahsyat menerpa aku karena peristiwa ini. Kemudian, aku secara pribadi tidak mau mengakui keberadaan SISKS. Pakoeboewana XIII yang kembar. Baik itu KGPH. Hangabehi maupun KGPH. Tejowulan. Jadilah badai lebih dahsyat lagi. Aku pikir lebih baik aku “ setya lan mituhu “ pada leluhur ketimbang pada kedua beliau kakak ipar itu. Aku sadar dampaknya aku akan diberi predikat “ Mantu Mbalelo “. Sebab kedua beliau itu sudah bukan “ Sinuwun “, Swargo PB.XII menyatakan diri sebagai “ SINUWUN WEKASAN “ ( baca buku  Raja di Alam Republik, hal 314 ). Barangkali banyak orang berfikir dan berucap tentang diriku : “ dasar anak gunung, tidak tau diuntung ! “. Ah.., itu wajar-wajar sajalah. Nah, mungkin cukup itu saja penjelasan jujurku .  

Aku mendengarkan penjelasan Swargo PB. IX dengan seksama. Beliau menyatakan bahwa membangun negara itu harus dimulai dari diri sendiri, atau lebih dikenal sebagai natanagoro. Negara yang paling kecil adalah diri kita sendiri. Pribadi kita terdiri dari sedulur keblat papat ‘, ‘ kakang kawah dan adi ari-ari ‘, ‘ kakang mbarep dan adi wuragil ‘, ‘ sadulur yang ada di jagat timur, jagat selatan, jagat barat dan jagat utara ‘, yang dalam wujud ‘ kareb ‘ ( keinginan lahiriah ) berwarna merah, putih, kuning dan hitam, yang dalam wujud ‘ karsa ‘ ( keinginan bathiniah ) juga berwarna merah, putih, kuning dan hitam, ada sadulur yang disebut ‘ metu bareng sak wat mati seje panggonan ‘, ada yang disebut kakang sabdopalon dan kakang nayagenggong, ada ibu abang dan bapa putih, dan terakhir ‘ Sang Hyang Wening ‘ si jabang bayi. Nah, anggota negara dalam pribadi ini hendaknya ditata dalam sebuah keseimbangan dan jatidiri kepribadian yang tegar berdiri di tengah samodra kehidupan.

 

- halaman 1 -

hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ]

 

 
Back to Top

KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Batik Karaton
   Gamelan
   Keris
   Bre Cake & Snack
KIOS B
   
   
   
   
   
   
KIOS C
   
   
   
   
   
   

   
 
Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian