Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 

P. Budda Handayaningrat
 
 
 
Home > Pengetahuan > Artikel

- halaman 1 -

hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ]

Jumat, 05 Juni 2009

SABDOPALON MENGGUGAT

Oleh : P. Budda Handayaningrat

"Untuk Bangsa dan Negara yang kucintai"

 

Dalam pemahaman orang jawa yang masih memegang teguh keyakinan dan meyakini budaya jawa, tentu tidak asing dengan “ SABDOPALON “ dan “ NAYAGENGGONG “. Keduanya diasumsikan sebagai nama tokoh yang berperan penting pada masa Majapahit. Keduanya dianggap dan diyakini sebagai ‘ PANAKAWAN ‘, Damarwulan hingga naik tahta menjadi ‘ BRAWIJAYA ‘. Pada akhirnya disebut sebagai ‘ Brawaijaya I ‘. Peran penting apa yang dilakukan oleh Sabdopalon dan Nayagenggong dalam kehidupan pribadi seorang ‘ Brawijaya ‘ ?. Kemudian apa peran utama Sabdopalon dan Nayagenggong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa Kerajaan Majapahit ?. Sementara masyarakat pedesaan yang telah uzur usianya, masih berkeyakinan bahwa suatu ketika ‘ kakek ane ‘ ( sebutan bagi Sabdopalon ) akan muncul dan bersatu kembali dengan ‘ den bagus ‘ ( sebutan bagi Brawijaya ). Ketika keduanya muncul dan bersatu kembali, masyarakat pedesaan akan makmur dan sejahtera, disimbolkan sebagai ‘ Wong cilik gumuyu ‘. Keyakinan ini, boleh saja di lihat sebagai dongeng pelipur lara, boleh saja di lihat sebagai sebuah legenda, bahkan boleh saja di lihat sebagai mitos. Pada kenyataannya cerita itu masih hidup dan dinyakini oleh masyarakat pedesaan.

  Ada seorang kawan ngrumpi malam hari, bertanya kepadaku : “ Mas Budda, apakah ada bukti-bukti yang bisa di lihat mata bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong itu ada pada masa kerajaan Majapahit ? “. Tentu, masih ada dan bisa dilihat pada dua buah candi karya ‘ Prabu Brawijaya V ‘ atau sering disebut sebagai ‘ Brawijaya Pamungkas ‘ yang berdiri di lereng gunung Lawu sebelah barat. Dua candi bergaya beda ini bernama candi “ Cetho “ dan candi “ Sukuh “, bisa disebut sebagai candi terakhir. Pada lantai ke 7 ( tujuh ) candi “ Cetho “ ada dua buah patung ‘ Sabdopalon ‘ dan ‘ Nayagenggong ‘. Pada lantai ke 3 candi “ Sukuh “ , ada relief ‘ Semar dan Gareng ‘. Keduanya punya makna dan esensi yang sama. Karena pada masa Kerajaan Majapahit bangsa kita tidak terlalu banyak mengembangkan budaya tulis, tapi lebih banyak mengembangkan budaya simbol. Ini bisa dipahami, karena bangsa kita masa itu mengembangkan optimalisasi potensi pikir. Dua candi ini bergaya hindu dan budha. Sering masyarakat beranggapan bahwa kedua candi ini sebagai tempat pemujaan, padahal jika kita simak lebih dalam lagi, kedua candi ini merupakan sebuah kitab atau buku ‘ filosofi budaya jawa ‘. Candi Cetho adalah kitab filosofi budaya jawa dalam konteks “ SANGKAN “, sedang candi Sukuh adalah kitab filosofi budaya jawa dalam konteks “ PARAN “.  

Kawan ngrumpi yang masih kerabat Puro Mangkunegaran ini, melanjutkan pertanyaan : “ Nah, kalau itu sebagai sebuah simbol..apa makna Sabdopalon dan Nayagenggong pada alam kepribadian kita atau mikro kosmos ? “. Sabdopalon atau Semar adalah simbol “ Nur Illahi “ yang ada dalam jiwa kita. Itu terpancar pada system kerja otak kanan kita yang menghasilkan “ SQ “. Sedang Nayagenggong atau Gareng adalah simbol “ Kecerdasan Manusia “ dalam penalaran lima indra raga kita . Ini terpancar pada system kerja otak kiri kita yang menghasilkan “ IQ “. Keduanya adalah simbol ‘ panakawan ‘, pana bermakna ‘ memahami atau paham betul akan segala ciptaan Sang Pencipta ‘ , sedang kawan bermakna ‘ mitra kehidupan ‘. Sehingga dalam kita hidup di tengah seluruh ciptaan Sang Pencipta , sebagai manusia harus berjalan dan bermitra dengan “ SQ “ dan “ IQ “. Perjalanan hidup manusia dalam sehari-hari tidak lepas dari alam lingkungan dan Sang Pencipta. Ciptaan Sang Pencipta itu ada yang tampak oleh lima indra kita, ada yang tidak tampak oleh lima indra kita. Maka hanya manusia yang mampu naik ke tingkat tujuh itulah yang bisa menggunakan kemitraan dengan Sabdopalon dan Nayagenggong dalam kehidupan nyata. Nah, jika kita sebagai manusia mampu menggunakan kemitraan dengan Sabdopalon dan Nayagenggong, maka manusia itu mampu menjadi “ leader “ atau “ pemimpin sejati “ seperti seorang Brawijaya. Tentang bagaimana cara untuk bisa ke tingkat tujuh, aku rasa banyak cara ...

 

- halaman 1 -

hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ]

 

 
Back to Top

KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Batik Karaton
   Gamelan
   Keris
   Bre Cake & Snack
KIOS B
   
   
   
   
   
   
KIOS C
   
   
   
   
   
   

   
 
Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian