Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 
Oleh :
Ki Ageng Panembahan
Darmo Sasmito

 
Home > Pengetahuan > Artikel

- halaman 1-

hal [ 1 ] [ 2 ]

SASTRO GENDING
( Sebuah Pengetahuan Management )

 

“ Sastro “ dalam bahasa jawa memiliki makna pengetahuan, berbeda dengan makna Sastra dalam bahasa Indonesia. Sastro adalah sebuah karya pengetahuan dengan pondasi kemampuan SQ dan IQ. “ Gending “ memiliki makna irama atau alunan suara musik yang dihasilkan oleh sebuah perangkat gamelan. Sastro Gending mulai dikenal pada masa Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Cucu dari Panembahan Senopati dan anak dari Sultan Hanyakrawati. Sultan Agung memberi istilah Sastro Gending, dilhami oleh pengetahuan yang diberikan oleh Panembahan Senopati , Sultan Hanyakrawati , Ki Juru Mertani ( penasehat sekaligus gurunya ) dan Ki Cinde Amoh ( penasehat, empu batik sekaligus gurunya ). Dalam sastro gending tersebut terdapat pengetahuan kalender jawa gagrag Mataram Sultan Agungan, pergantian tahun barunya dimulai dengan bulan Suro. Kalender inilah yang pada masa sekarang banyak dipakai oleh masyarakat jawa dalam berbagai hal.

Sebelum itu kalender jawa menggunakan penghitungan Saka, yang ada sejak sebelum masa Majapahit. Kalender Jawa gagrag Mataram mengacu pada pertumbuhan dan perkembangan syiar agama Islam di tanah jawa. Sehingga Kalender merupakan salah satu sub bab dalam Sastro Gending. Sastro Gending diterapkan pertama kali oleh Panembahan Senopati dalam kehidupannya setelah berada di Alas Mentaok. Tanah Perdikan pemberian Sultan Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ), menjadi titik awal membangun sebuah komunitas baru. Disinilah awal atau cikal bakal dari Mataram baru. Ketika Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya mangkat, Kerajaan Pajang diperintah oleh Sultan Pengiri menantu dari Sultan Hadiwijaya. Dalam dua tahun pemerintahannya, banyak punggawa keraton tidak sepakat dengan tatacara atau irama pemerintahan Sultan Pengiri yang sebelumnya adalah salah satu adipati di pesisir utara tanah jawa. Para Punggawa keraton Pajang menemui Panembahan Senopati, meminta Panembahan Senopati merebut tahta Keraton Pajang. Panembahan Senopati menolak dengan keras, bagi Panembahan Senopati pantang mengambil hak yang telah diberikan pada orang lain. Justru para punggawa disarankan menemui Pangeran Benowo ( anak kandung Jaka Tingkir ), karena Pangeran Benowo lah yang berhak atas tahta Pajang. Irama atau gaya pemerintahan Sultan Pengiri dipandang tidak sesuai dengan budaya masyarakat jawa pesisir selatan. Panembahan Senopati bersedia membantu Panggeran Benowo, jika Pangeran Benowo mau duduk di tahta Pajang dan mempersatukan tanah jawa dan madura. Kesepakatan tersebut terjadi di tengah hutan / alas Mentaok. Hingga akhirnya terjadi penyerangan terhadap Pajang dipimpin oleh Pangeran Benowo yang dibantu oleh Panembahan Senopati di belakang layar.

Serangan ke Pajang berhasil, ketika Sultan Pengiri hendak dibunuh oleh para Punggawa Pajang, Penembahan Senopati mencegahnya. Sultan Pengiri diperintahkan kembali menjadi Adipati di pesisir utara. Irama atau gaya Panembahan Senopati ini, menjadi sebuah irama managemen baru dalam sistem pemerintahan. Pangeran Benowo didudukkan sebagai raja di Pajang oleh Panembahan Senopati. Di pundak Pangeran Benowo ditaruh misi mempersatukan tanah jawa dan madura. Panembahan Senopati memberi pengetahuan managemen pemerintahan kepada Pangeran Benowo, agar tidak meninggalkan tiga hal yaitu :

  1. Para Ulama, dengan mendengarkan pendapat ulama yang mumpuni seorang raja tahu akan arah yang diberikan oleh Sang Pencipta dalam bentuk tertulis dan tafsirnya serta diyakini oleh masyarakat luas. Sehingga konflik masyarakat dengan kekerasan akan bisa dihindari.
  2. Para Ahli Petung, dengan mendengarkan pendapat mereka yang mampu memperhitungkan situasi dan kondisi yang sedang terjadi dan masa mendatang, sehingga tidak keliru dalam menentukan sebuah kebijakan pada masyarakat.
  3. Para Ahli Tapabrata, dengan mendengarkan pendapat mereka akan mampu menyusun strategi yang tepat, dan tidak berbenturan dengan alam yang juga hidup. Mereka juga ahli dalam hal peperangan, sehingga akan mampu menghindari bentuk-bentuk peperangan.

- halaman 1-

hal [ 1 ] [ 2 ]


Back to Top

KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Keris
   Gamelan
     
    
KIOS B
   Laskar Merah Putih
   Soloraya
Asmaradana Acting School
   
   
   
KIOS C
   
   
   
   
   
   

   
Kami mengharapkan kritik dan saran guna perkembangan pasarjava
Apabila anda ingin memberi masukan silahkan kirim ke alamat kami di
info@pasarjava.com

Sebelumnya kami ucapkan banyak terimakasih.
 

Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian