 |
SASTRO
GENDING
( Sebuah Pengetahuan Management
) |
“ Sastro “ dalam
bahasa jawa memiliki makna pengetahuan, berbeda dengan makna Sastra
dalam bahasa Indonesia. Sastro adalah sebuah karya pengetahuan dengan
pondasi kemampuan SQ dan IQ. “ Gending “ memiliki makna
irama atau alunan suara musik yang dihasilkan oleh sebuah perangkat
gamelan. Sastro Gending mulai dikenal pada masa Mataram dibawah
pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Cucu dari Panembahan Senopati
dan anak dari Sultan Hanyakrawati. Sultan Agung memberi istilah
Sastro Gending, dilhami oleh pengetahuan yang diberikan oleh Panembahan
Senopati , Sultan Hanyakrawati , Ki Juru Mertani ( penasehat sekaligus
gurunya ) dan Ki Cinde Amoh ( penasehat, empu batik sekaligus gurunya
). Dalam sastro gending tersebut terdapat pengetahuan kalender jawa
gagrag Mataram Sultan Agungan, pergantian tahun barunya dimulai
dengan bulan Suro. Kalender inilah yang pada masa sekarang banyak
dipakai oleh masyarakat jawa dalam berbagai hal.
Sebelum itu kalender jawa menggunakan penghitungan Saka, yang ada
sejak sebelum masa Majapahit. Kalender Jawa gagrag Mataram mengacu
pada pertumbuhan dan perkembangan syiar agama Islam di tanah jawa.
Sehingga Kalender merupakan salah satu sub bab dalam Sastro Gending.
Sastro Gending diterapkan pertama kali oleh Panembahan Senopati
dalam kehidupannya setelah berada di Alas Mentaok. Tanah Perdikan
pemberian Sultan Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ), menjadi titik awal
membangun sebuah komunitas baru. Disinilah awal atau cikal bakal
dari Mataram baru. Ketika Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya mangkat,
Kerajaan Pajang diperintah oleh Sultan Pengiri menantu dari Sultan
Hadiwijaya. Dalam dua tahun pemerintahannya, banyak punggawa keraton
tidak sepakat dengan tatacara atau irama pemerintahan Sultan Pengiri
yang sebelumnya adalah salah satu adipati di pesisir utara tanah
jawa. Para Punggawa keraton Pajang menemui Panembahan Senopati,
meminta Panembahan Senopati merebut tahta Keraton Pajang. Panembahan
Senopati menolak dengan keras, bagi Panembahan Senopati pantang
mengambil hak yang telah diberikan pada orang lain. Justru para
punggawa disarankan menemui Pangeran Benowo ( anak kandung Jaka
Tingkir ), karena Pangeran Benowo lah yang berhak atas tahta Pajang.
Irama atau gaya pemerintahan Sultan Pengiri dipandang tidak sesuai
dengan budaya masyarakat jawa pesisir selatan. Panembahan Senopati
bersedia membantu Panggeran Benowo, jika Pangeran Benowo mau duduk
di tahta Pajang dan mempersatukan tanah jawa dan madura. Kesepakatan
tersebut terjadi di tengah hutan / alas Mentaok. Hingga akhirnya
terjadi penyerangan terhadap Pajang dipimpin oleh Pangeran Benowo
yang dibantu oleh Panembahan Senopati di belakang layar.
Serangan ke Pajang berhasil, ketika Sultan Pengiri hendak dibunuh
oleh para Punggawa Pajang, Penembahan Senopati mencegahnya. Sultan
Pengiri diperintahkan kembali menjadi Adipati di pesisir utara.
Irama atau gaya Panembahan Senopati ini, menjadi sebuah irama managemen
baru dalam sistem pemerintahan. Pangeran Benowo didudukkan sebagai
raja di Pajang oleh Panembahan Senopati. Di pundak Pangeran Benowo
ditaruh misi mempersatukan tanah jawa dan madura. Panembahan Senopati
memberi pengetahuan managemen pemerintahan kepada Pangeran Benowo,
agar tidak meninggalkan tiga hal yaitu :
- Para Ulama, dengan mendengarkan pendapat ulama
yang mumpuni seorang raja tahu akan arah yang diberikan oleh Sang
Pencipta dalam bentuk tertulis dan tafsirnya serta diyakini oleh
masyarakat luas. Sehingga konflik masyarakat dengan kekerasan
akan bisa dihindari.
- Para Ahli Petung, dengan mendengarkan pendapat
mereka yang mampu memperhitungkan situasi dan kondisi yang sedang
terjadi dan masa mendatang, sehingga tidak keliru dalam menentukan
sebuah kebijakan pada masyarakat.
- Para Ahli Tapabrata, dengan mendengarkan pendapat
mereka akan mampu menyusun strategi yang tepat, dan tidak berbenturan
dengan alam yang juga hidup. Mereka juga ahli dalam hal peperangan,
sehingga akan mampu menghindari bentuk-bentuk peperangan.
|