|
Rabu, 23 Juli 2008
SEMAR MBANGUN KAHYANGAN DALAM KONSEP BRAWIJAYA
Bagian V
Oleh : P. Budda Handayaningrat
“ Aku tulis artikel ini ketika hatiku perih dan menangis melihat bangsa ini diterpa gejolak alam ( pagebluk ) yang tiada henti. Perlu rasanya aku menulis artikel ini untuk para pemimpin dan calon pemimpin serta yang dipimpim, sebab aku bukan pemimpin dan bukan siapa-siapa, kecuali hanya sebuah alat speaker dari para leluhur yang telah suci di keraton lawu “.
Ketika aku mulai menulis artikel ini ( minggu, 20 juli 2008 sekitar pukul 13.15 ), selatan jogyakarta diguncang gempa. Getaran gempa hanya aku rasakan dalam batinku, akupun mencoba ingin tahu. Sekejap aku lepas orbit dari tempatku duduk. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak ?. Aku melihat reaksi bumi yang mulai marah kembali, oleh karena aksi-aksi manusia jawa yang tidak memahami dan bahkan mencoba menentang kehendak leluhur. Ya.., peringatan atau reaksi itu untuk anak turun mataram yang mencoba menentang kehendak leluhur. Apakah ini yang ingin dinyatakan oleh alam, bahwa “ wong jawa kari separo “ ( orang jawa tinggal separo ). Artinya pemahaman manusia jawa terhadap leluhur, setengah hati. Raganya bisa memahami, tapi jiwanya berontak bahkan menentang dan menantang. Mereka merasa punya kelebihan dan kekuatan spiritual, seolah mereka lebih hebat dari para leluhur suci. Yah…, apa yang harus aku katakan ?. Sebaiknya aku kembali fokus pada artikel saja.
Ki Lurah Semar, Begawan Tambapetra, Nakula dan Sadewa, membawa pohon jatiwasesa berbunga dewandaru dan berbuah jayandaru kehadapan Prabu Puntadewa. Sebagai sebuah syarat untuk meminjam “ jimat kalimasada “. Sesampai di pendapa disambut oleh Prabu Puntadewa, Prabu Kresna, Werkudara, Harjuna dan Hanoman. Terjadilah sebuah dialog yang mengesankan :
Ki Lurah Semar : “ Ndara…ndaraku Prabu Puntadewa, telah aku dapatkan pohon jatiwasesa berbunga dewandaru dan berbuah jayandaru. Kini, aku ingin pinjam jimat kalimasada untuk mengatasi pagebluk di karang kadempel dan sekaligus seluruh negara yang berdampingan dengan amarta “
Prabu Puntadewa : “ Benar.., kakang Semar…aku sudah melihat pohon yang aku minta. Namun sebenarnya bukan hanya wujud fisik pohon ini. Justru aku ingin kakang Semar menjabarkan arti dan makna pohon ini. Di setiap pemikiranku, seorang pemimpin harus memiliki pohon jatiwasesa berbunga dewandaru dan berbuah jayandaru. Dengan begitu para kawula dan pemimpin akan senyawa dan selaras dengan jagat. Sehingga jagat tidak akan marah dan murka untuk memberi goncangan baik di jiwa maupun di raga “.
Ki Lurah Semar : “ Eeee…, lae…lae…ndaraku Puntadewa…ndika ( kamu ) itu ‘ narendra ‘ bukan ratu. Ndaraku harjuna itu ‘ ratu ‘ di madukara. Ndaraku Werkudara ‘ ratu ‘ di jodipati. Ndaraku Kresna, ‘ ratu ‘ di nDwarawati. ‘ Ratu ‘ itu sifat dan watak pemimpin yang kesatria. Budaya ‘ keratuan ‘ adalah pola-pikir dan perilaku pemimpin yang kesatria. Beda dengan ndaraku Puntadewa yang ‘ Narendra ‘. Narendra itu seorang kesatria yang punya sifat dan watak yang bijak, penuh dengan darma dalam hidupnya, tidak pernah berfikir untuk dirinya sendiri kecuali bagi kepentingan masyarakat, darahnya putih karena kebaikannya, lugu dan jujur dalam segala hal, tapi setiap kata-kata yang diucapkan selalu bijaksana dan bisa mengatasi segala persoalan kawula-kawulanya. Sebab tingkat nya adalah manusia yang sangat dekat dengan para miluhur dan Sang Pencipta. Tidak hanya sebagai pemimpin manusia saja, tapi juga mampu sebagai pemimpin alam sekalir ( seluruh isi alam ). Maka hanya ndaraku Puntadewa yang mampu memiliki, merawat dan membawa ‘ jimat kalimasada ‘.
Pohon Jatiwasesa adalah pohon jati yang bercabang empat. Ini sebuah simbol jatidiri manusia yang jawa ( paham ) akan hukum kodratnya sebagai manusia yang kesatria seperti ‘ ratu ‘ tadi. Jatiwasesa punya arti ‘ kekuasaan yang sejati ‘ tentu terhadap dirinya sendiri. Jika seorang pemimpin tidak bisa memahami akan kekuasaan yang sejati atas dirinya sendiri, tentu bukanlah seorang pemimpin yang kesatria yang bisa membawa masyarakatnya mencapai kesejahteraan. Gambaran pemimpin yang tidak paham akan kekuasaan sejati atas jatidirinya, ya..seperti para kurawa itu. Pola pikir dan
...
|
- halaman 1 -
|
hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] [ 4 ]
|
|
|