Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan |  Forum 
 
News

Oleh :
Ki Ageng Panembahan
Darmo Sasmito
 
Home > pengetahuan > news > penyembuhan


PENYEMBUHAN DI MASA MAJAPAHIT


Penyembuhan di masa kini diidentikan dengan ilmu kedokteran dan farmasi, baik dari sisi analisa maupun terapinya serta sarana penyembuhan. Hal ini merupakan sebuah perkembangan teknologi yang dibidani oleh masyarakat barat, yang lebih mengembangkan pada pengetahuan materiil. Pengetahuan materiil itu sendiri menggunakan mesin otak yang dikenal sebagai Intelegent Quotient ( IQ ).

Harus diakui pengembangan IQ di masyarakat barat mengalami percepatan perkembangan yang luar biasa, sehingga mampu menciptakan alat-alat bantu bagi manusia. Dalam dunia penyembuhan bagi kesehatan manusia, alat-alat bantu mulai dari tetoskop, mikroskop hingga alat-alat bedah yang canggih telah dihasilkan sebagi karya masyarakat barat. Toh..dunia mengakui keberadaannya, walau pembuktian kebenarannya melalui sebuah proses panjang. Perlu juga diakui ketelitian masyarakat barat akan pengetahuan, dilakukan dengan budaya tulis. Berbeda dengan masyarakat timur yang kurang mengembangkan budaya tulis. Masyarakat timur lebih banyak menggunakan budaya simbol bagi pengetahuan yang dimilikinya. Konon seorang Enstein, hanya menggunakan 17% kemampuan otak kirinya dalam pengembangan IQ. Terkadang manusia punya pertanyaan, apa fungsi otak kanan ?. Dunia penyembuhan masa kini, membangun sekat dengan penyembuhan yang bersifat tradisional. Namun juga harus diakui bahwa banyak masyarakat beralih ke penyembuhan alternatif. Apakah penyembuhan alternatif adalah penyembuhan tradisional ?

Peraturan Pemerintah melarang penyembuhan alternatif menggunakan alat-alat kedokteran. Hal ini bisa dipahami oleh karena para pelaku alternatif tidak mengenyam pendidikan formal kedokteran. Kekhawatiran penyalahan gunaan alat kedokteran sangatlah logis, karena menyangkut profesionalisme kedokteran. Lalu Bagaimana dimasa Majapahit ?. Pada masa itu masyarakatnya dikenal sehat, giat bekerja dan berkarya luar biasa. Hal ini dapat dibuktikan dengan perdagangan yang mencapai daratan china. Hubungan dan luasnya wilayah dari Madagaskar hingga Fiji, bahkan dari sebelah selatan Mongol hingga pesisir utara benua Australia, merupakan wilayah dibawah pengaruh Majapahit. Semua itu membuktikan bahwa masyarakat pada masa itu adalah masyarakat yang sehat, mampu mengatasi segala bentuk gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan biasa terjadi pada jiwa, raga, pola-pikir manusia dan papan dimana manusia tinggal. Kesuburan dan hasil yang berlimpah dari bumi Nusantara, menunjukkan kesehatan papan.

Dalam dunia penyembuhan dan pengobatan masa Majapahit, sumber daya manusia yang memiliki kemampuan itu disebut sebagai empu atau dalam bahasa aslinya " Kihembu ". Jabatan ini terbagi dua, " empu ageng " dan " empu alit ", mungkin dimasa sekarang dengan gelar Doktor dan Spesialist. Sedangkan yang bersifat umum atau masih dalam taraf pembelajaran sering disebut sebagai " cantrik " atau " wasi ". Para penyembuh pada masa itu punya spesifikasi sendiri-sendiri, dibedakan dalam hal mengatasi gangguan kesehatan jiwa, raga, pola-pikir dan papan. Pengembangan ilmu mereka tanpa alat-alat bantu yang canggih. Semua menggunakan kemampuan dan optimalisasi otak kanan atau pada masa sekarang disebut Spiritual Quotient ( SQ ). Tanpa tetoskop seorang empu mampu mendeteksi denyut nadi, tanpa X-ray seorang empu mampu mendeteksi organ tubuh yang mengalami gangguan. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya terakhir sumber daya manusia Majapahit di kawasan gunung Lawu.

Salah satu contoh adalah bangunan piramida terpancung di dalam " candi sukuh ". Bangunan ini sama dengan piramida astek di Amerika, yang dibangun pada jaman pra sejarah. Dengan alat bantu apa, sumber daya manusia Majapahit melihat bangunan piramida di astek Amerika ?. Jelas pada masa itu tidak ada foto satelit, tidak ada kapal yang mendarat sampai kesana. Tapi karena kemampuan dan kecerdasan yang dikembangkan melalui otak kanan, sumber daya manusia Majapahit mampu melihat dengan pendekatan imateriil. Ilmu pengetahuan ini tidak ditulis dalam sebuah buku, sebagaimana layaknya masyarakat barat. Ilmu pengetahuan ini dilestarikan dalam bentuk imateriil dan simbol-simbol serta artefak-artefak yang ada dikawasan gunung Lawu. Mengapa demikian…? Adalah wajar bila para ahli dimasa itu menginginkan agar sumber daya manusia Nusantara masa kini tetap memiliki dan memelihara kemampuan spiritualnya. Sehingga mampu mempelajari pengetahuan yang ditebar secara imateriil di kawasan gunung Lawu ini. Keinginan dan harapan seperti itu disimbolkan dalam bentuk patung " Brawijaya " dan " Bima Rama ". Brawijaya terdiri dari dua suku kata " Braya " dan " Wijaya ", yang memiliki arti dan makna " anak rakyat yang unggul ". Sedangkan Bima Rama adalah simbol kesempurnaan hidup manusia, hal ini bisa dibaca dalam cerita Bima Suci. Bima suci adalah cerita klasik seorang kesatria mencari ' air suci perwitasari ' ( pengetahuan kesempurnaan hidup ). Untuk mencapai itu harus mencari dan mendapatkan " susuh angin " ( sarang angin ). Artinya manusia harus mampu mencari dan mendapatkan serta mengurai akar permasalahan ( angin = persoalan ), jangan sampai menjadi badai.

Pengetahuan imateriil ini, salah satunya dikembangkan dalam bentuk pengetahuan pengobatan tradisional. Dipelajari dan dipraktekan dalam klinik pengobatan tradisional " bagaskara ", dikomandani oleh ki Mayang Seto. Ki Mayang Seto yang nota bene berasal dari Bengkulu ini belajar dan mendalami pengobatan tradisional. Sehingga dalam analisa dan pendeteksian penyakit tidak diperlukan alat bantu kedokteran. Dalam abad modern, pengetahuan seperti ini dianggap sulit untuk dicapai. Padahal secara rasional bisa dipelajari dan dipahami. Hanya pengakuan dunia pendidikan formal belum menjangkau sampai disitu. Upaya Prof. Damarjati Supajar, guru besar filsafat Universitas Gajahmada Yogyakarta, ingin membangun sebuah universitas Jagatraya, perlu didukung dan dihormati. Hal tersebut merupakan sebuah upaya menggali pengetahuan imateriil menjadi materiil. Benarkah masyarakat Nusantara, anak-turun Brawijaya merupakan sumber daya manusia yang mumpuni ?. Akan dijawab dalam perkembangan jaman dan kemampuan sumber daya manusia yang mempelajari pengetahuan imateriil.

Pengobatan tradisional masa Majapahit, mulai dikembangkan dari klinik tradisional " bagaskara ". sebuah upaya mensosialisasikan kecerdasan spiritual masa Majapahit dalam masa kini. Sebuah upaya menggali harta karun yang terpendam lebih dari limaratus tahun. Akankah berhasil pengembangan dan pelestarian ini…?

 

 
KIOS A
   Jamu Mustika Lawu
   Klinik Bagaskara
   Batik Karaton
   Gamelan
   Keris
   
MERCHANT B
   
   
   
   
   
   
MERCHANT C
   
   
   
   
   
   

 
 

 

 

Piramida terpancung
Candi Sukuh

 

 

 

 

   
Kami mengharapkan kritik dan saran guna perkembangan pasarjava
Apabila anda ingin memberi masukan silahkan kirim ke alamat kami di
info@pasarjava.com

Sebelumnya kami ucapkan banyak terimakasih.

Home  |  Kesehatan  |  Seni & Budaya  |  Sandang Pangan & Papan  |  Pengetahuan  |  Forum

Copyright © 2005 Design By @rdian