| 
PENYEMBUHAN DI MASA MAJAPAHIT
Penyembuhan di masa kini diidentikan dengan ilmu kedokteran dan
farmasi, baik dari sisi analisa maupun terapinya serta sarana penyembuhan.
Hal ini merupakan sebuah perkembangan teknologi yang dibidani oleh
masyarakat barat, yang lebih mengembangkan pada pengetahuan materiil.
Pengetahuan materiil itu sendiri menggunakan mesin otak yang dikenal
sebagai Intelegent Quotient ( IQ ).
Harus diakui pengembangan IQ di masyarakat barat mengalami percepatan
perkembangan yang luar biasa, sehingga mampu menciptakan alat-alat
bantu bagi manusia. Dalam dunia penyembuhan bagi kesehatan manusia,
alat-alat bantu mulai dari tetoskop, mikroskop hingga alat-alat
bedah yang canggih telah dihasilkan sebagi karya masyarakat barat.
Toh..dunia mengakui keberadaannya, walau pembuktian kebenarannya
melalui sebuah proses panjang. Perlu juga diakui ketelitian masyarakat
barat akan pengetahuan, dilakukan dengan budaya tulis. Berbeda dengan
masyarakat timur yang kurang mengembangkan budaya tulis. Masyarakat
timur lebih banyak menggunakan budaya simbol bagi pengetahuan yang
dimilikinya. Konon seorang Enstein, hanya menggunakan 17% kemampuan
otak kirinya dalam pengembangan IQ. Terkadang manusia punya pertanyaan,
apa fungsi otak kanan ?. Dunia penyembuhan masa kini, membangun
sekat dengan penyembuhan yang bersifat tradisional. Namun juga harus
diakui bahwa banyak masyarakat beralih ke penyembuhan alternatif.
Apakah penyembuhan alternatif adalah penyembuhan tradisional ?
Peraturan Pemerintah melarang penyembuhan alternatif menggunakan
alat-alat kedokteran. Hal ini bisa dipahami oleh karena para pelaku
alternatif tidak mengenyam pendidikan formal kedokteran. Kekhawatiran
penyalahan gunaan alat kedokteran sangatlah logis, karena menyangkut
profesionalisme kedokteran. Lalu Bagaimana dimasa Majapahit ?. Pada
masa itu masyarakatnya dikenal sehat, giat bekerja dan berkarya
luar biasa. Hal ini dapat dibuktikan dengan perdagangan yang mencapai
daratan china. Hubungan dan luasnya wilayah dari Madagaskar hingga
Fiji, bahkan dari sebelah selatan Mongol hingga pesisir utara benua
Australia, merupakan wilayah dibawah pengaruh Majapahit. Semua itu
membuktikan bahwa masyarakat pada masa itu adalah masyarakat yang
sehat, mampu mengatasi segala bentuk gangguan kesehatan. Gangguan
kesehatan biasa terjadi pada jiwa, raga, pola-pikir manusia dan
papan dimana manusia tinggal. Kesuburan dan hasil yang berlimpah
dari bumi Nusantara, menunjukkan kesehatan papan.
Dalam dunia penyembuhan dan pengobatan masa Majapahit, sumber daya
manusia yang memiliki kemampuan itu disebut sebagai empu atau dalam
bahasa aslinya " Kihembu ". Jabatan ini terbagi dua, "
empu ageng " dan " empu alit ", mungkin dimasa sekarang
dengan gelar Doktor dan Spesialist. Sedangkan yang bersifat umum
atau masih dalam taraf pembelajaran sering disebut sebagai "
cantrik " atau " wasi ". Para penyembuh pada masa
itu punya spesifikasi sendiri-sendiri, dibedakan dalam hal mengatasi
gangguan kesehatan jiwa, raga, pola-pikir dan papan. Pengembangan
ilmu mereka tanpa alat-alat bantu yang canggih. Semua menggunakan
kemampuan dan optimalisasi otak kanan atau pada masa sekarang disebut
Spiritual Quotient ( SQ ). Tanpa tetoskop seorang empu mampu mendeteksi
denyut nadi, tanpa X-ray seorang empu mampu mendeteksi organ tubuh
yang mengalami gangguan. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya terakhir
sumber daya manusia Majapahit di kawasan gunung Lawu.
Salah satu contoh adalah bangunan piramida terpancung di dalam
" candi sukuh ". Bangunan ini sama dengan piramida astek
di Amerika, yang dibangun pada jaman pra sejarah. Dengan alat bantu
apa, sumber daya manusia Majapahit melihat bangunan piramida di
astek Amerika ?. Jelas pada masa itu tidak ada foto satelit, tidak
ada kapal yang mendarat sampai kesana. Tapi karena kemampuan dan
kecerdasan yang dikembangkan melalui otak kanan, sumber daya manusia
Majapahit mampu melihat dengan pendekatan imateriil. Ilmu pengetahuan
ini tidak ditulis dalam sebuah buku, sebagaimana layaknya masyarakat
barat. Ilmu pengetahuan ini dilestarikan dalam bentuk imateriil
dan simbol-simbol serta artefak-artefak yang ada dikawasan gunung
Lawu. Mengapa demikian…? Adalah wajar bila para ahli dimasa
itu menginginkan agar sumber daya manusia Nusantara masa kini tetap
memiliki dan memelihara kemampuan spiritualnya. Sehingga mampu mempelajari
pengetahuan yang ditebar secara imateriil di kawasan gunung Lawu
ini. Keinginan dan harapan seperti itu disimbolkan dalam bentuk
patung " Brawijaya " dan " Bima Rama ". Brawijaya
terdiri dari dua suku kata " Braya " dan " Wijaya
", yang memiliki arti dan makna " anak rakyat yang unggul
". Sedangkan Bima Rama adalah simbol kesempurnaan hidup manusia,
hal ini bisa dibaca dalam cerita Bima Suci. Bima suci adalah cerita
klasik seorang kesatria mencari ' air suci perwitasari ' ( pengetahuan
kesempurnaan hidup ). Untuk mencapai itu harus mencari dan mendapatkan
" susuh angin " ( sarang angin ). Artinya manusia harus
mampu mencari dan mendapatkan serta mengurai akar permasalahan (
angin = persoalan ), jangan sampai menjadi badai.
Pengetahuan imateriil ini, salah satunya dikembangkan dalam bentuk
pengetahuan pengobatan tradisional. Dipelajari dan dipraktekan dalam
klinik pengobatan tradisional " bagaskara ", dikomandani
oleh ki Mayang Seto. Ki Mayang Seto yang nota bene berasal dari
Bengkulu ini belajar dan mendalami pengobatan tradisional. Sehingga
dalam analisa dan pendeteksian penyakit tidak diperlukan alat bantu
kedokteran. Dalam abad modern, pengetahuan seperti ini dianggap
sulit untuk dicapai. Padahal secara rasional bisa dipelajari dan
dipahami. Hanya pengakuan dunia pendidikan formal belum menjangkau
sampai disitu. Upaya Prof. Damarjati Supajar, guru besar filsafat
Universitas Gajahmada Yogyakarta, ingin membangun sebuah universitas
Jagatraya, perlu didukung dan dihormati. Hal tersebut merupakan
sebuah upaya menggali pengetahuan imateriil menjadi materiil. Benarkah
masyarakat Nusantara, anak-turun Brawijaya merupakan sumber daya
manusia yang mumpuni ?. Akan dijawab dalam perkembangan jaman dan
kemampuan sumber daya manusia yang mempelajari pengetahuan imateriil.
Pengobatan tradisional masa Majapahit, mulai dikembangkan dari
klinik tradisional " bagaskara ". sebuah upaya mensosialisasikan
kecerdasan spiritual masa Majapahit dalam masa kini. Sebuah upaya
menggali harta karun yang terpendam lebih dari limaratus tahun.
Akankah berhasil pengembangan dan pelestarian ini…?
|