PROFIL
Aku anak kedua dari empat bersaudara, kakakku laki-laki terlahir sebagai BRM. Prabu Wasisto. Namun bapakku sering menyebut “ Bre Reksabumi “. Kakakku ini sekarang tinggal di Jakarta, karena ia menggeluti dunia musik dan tekun dengan gitarnya. Aku sendiri terlahir sebagai BRAy. Ratu Windriya, bapakku lebih suka menyebut “ Kencono Ayu “. Adikku lelaki terlahir sebagai BRM. Prabu Windrayo, bapakku lebih suka menyebut “ Bre Wirabumi “. Adikku yang terkecil terlahir sebagai “ BRM. Bre Kumara “, berusia 4 tahun di bulan Mei tahun 2007. Ibuku yang “ Cantik “ kata bapakku terlahir sebagai “ GRAy. Koes Ismaniyah “, adalah putri nomer 33 dari eyangku “ Swargo ( Almarhum ) Pakoe Boewono XII “. Maaf, ya…jangan dianggap sombong, karena aku diajarkan bapak untuk bicara lugu dan jujur.
Aku bersama dua adik dan ibuku tinggal di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta ( Baluwarti ), di kampung “ Gondorasan “. Sedangkan bapakku hanya pulang di sore hari, kalau malam selalu bepergian. Anehnya bapakku selalu tahu apa yang ada di benak dan hatiku. Ibuku memberi nama tempat tinggal kami sebagai “ Puri Bre “. Kata bapak, puri berasal dari kata “ cempuri “ yang artinya tempat kecil yang indah dan suci. Bapak juga cerita, cempuri itu tempat tinggal roh-roh suci. Bapak juga jelaskan arti “ Bre “ adalah “ Anak-anak Brawijaya “. “ Brawijaya “ berasal dari kata “ braya “ yang berarti “ anak rakyat “, dan kata “ wijaya “ yang berarti “ unggul “. Nah…ketimbang aku menjelaskan artinya nanti keliru, lebih bagus kalau yang baca mengartikan sendiri-sendiri.
Kami berempat dan beberapa orang tinggal di “ Puri Bre “. Di tempat ini, kami beraktifitas memproduksi “ Kue kering “ berlabel “ Bre “, energy drink / jamu penyegar berlabel “ Kencono Ayu “, jamu buatan bapak berlabel “ Mustika Lawu “ dan makanan masakan khas Jawa dan Nusantara buatan ibuku berlabel “ Puri Bre “. Banyak kan produknya….!:). Oleh Bapak, aku diposisikan mengelola “ kue kering dan jamu “. Bapak ajarkan padaku bagaimana berbisnis, memanage sebuah bisnis, memanage waktu, marketing dll. Aku sendiri masih duduk di bangku SMP kelas III ( sekarang kelas IX ), disebuah sekolah katholik “ SMP. Bintang Laut “ di Surakarta. Aku betul-betul belajar pada pendidikan formal di sekolah dan non formal dari bapak. Kata bapak : “ belajar berdiri di kaki sendiri “. Sambil tersenyum bapak juga memberi sebutan “ Juragan cilik “ kepadaku. Katanya sejak umur 12 tahun, bapak juga sudah belajar membuat usaha, namun aku tidak diberitahu apa jenis usahanya.
Bagi diriku sendiri, belajar berusaha sangat menyenangkan dan mengasyikan. Aku tidak perlu khawatir, karena Bapak selalu mendukung dan mengawasi tapi tidak selalu mendikte. Mungkin tujuannya agar aku lebih kreatif… kaleee..!. Diawalnya, usaha kue kering ini mengalami pasang-surut, namun kini mulai berjalan dengan baik. Kata bapakku lagi : “ Ngger..lihat anak kecil itu yang belajar berdiri dan berjalan, kadang-kadang terjatuh, namun tidak menyurutkan niatnya untuk bisa berdiri dan berjalan…”. Ada lagi kata bapakku : “ Ngger.. membuat usaha itu ibarat menanam benih yang unggul, jika setiap hari tekun disirami dan dipelihara, maka pohon itu akan jadi besar dan berbuah lebat. Membuat usaha juga ibarat orang membangun rumah, pasti dari pondasinya, temboknya, atapnya dan akhirnya interiornya “.
Yang paling mengesankan dari kata bapakku adalah : “ Ngger…Menawa sira, bapak paringi rejeki..nora bisa dadi jagat. Menawa bapak paringi Jagat, bakal bisa dadi rejeki “ ( Nak, jika kamu, bapak beri materi tidak bisa menjadi Jagat, namun jika bapak beri Jagat, akan bisa menjadi materi ).
Nah, Jagat itu adalah sebuah kehidupan usaha, walau kecil akan hidup menjadi besar dan menghasilkan materi untuk kebutuhan hidup. Sementara Ibuku yang cantik, membantu memanage produksinya. Aku banyak belajar dari ibu, bagaimana meramu bahan-bahan kue dan memproses menjadi kue yang cantik juga. Sedangkan adikku Bre Wirabumi, membantu beli kebutuhan di warung dekat rumah. Berbeda adikku Bre Kumara, selalu ikut mengawasi jalannya produksi dan suka “ incip-incip “..:). Nah..jadilah kami guyub dan gotong-royong…J. Management keuangan dan marketing aku yang pegang, untuk marketing ibuku juga ikut turun-tangan. Sedangkan bapakku, selalu beri sinyal kalau mau ada pesenan atau rejeki, kecuali itu bapak duduk sebagai konsultan bisnisku. Itulah kami… |