Sejak abad 5-6, masyarakat jawa mengenal alat musik berupa gamelan.
Alat musik ini dimaksudkan mampu mempengaruhi dan menggerakkan alam
sekitar, sehingga tercipta atmosfir yang di kehendaki oleh irama
gamelan ini. Gamelan dibuat sebagai alat musik diatonis yang mampu
menciptakan gelombang elektro magnetis. Tidak jarang gamelan juga
dipakai sebagai terapi jiwa pada manusia. Gamelan dibuat dengan
kemampuan “ local genius “ pembuatnya, pada
masa lalu disebut empu gamelan. Proses pembuatannya tidak jauh berbeda
dengan seorang empu keris, empu jamu, empu batik, empu tari dan
lain sebagainya. Kemampuan SQ,
mewarnai dan mendominasi dalam pembuatan gamelan. Maka gamelan yang
dibuat dengan proses pembuatan tersebut memiliki energi imateriil.
Dengan begitu laras yang tercipta ketika ditabuh / dimainkan akan
mempengaruhi alam sekitarnya.
Pada masa sekarang tidak banyak empu gamelan, hal
ini disebabkan oleh sudut pandang yang mengacu pada nilai seninya
saja. Namun demikian masih banyak empu gamelan / pengrajin gamelan
yang masih memegang teguh “
laku “ sebagai sebuah landasan dalam proses
membuat gamelan. Dalam hal merawat gamelan juga mengenal
“ jamasan “ sebagaimana sebuah keris. Yang
paling sulit adalah merawat kekuatan imateriil alat musik gamelan
ini. Bila kekuatan imateriil ini menjadi sangat drop, maka laras
gamelan akan sering berubah-ubah. Bahkan beberapa kali dilaras oleh
ahli gamelan pun tidak mencapai sebuah laras yang optimal. Gamelan
terdiri dari berbagai alat yang menyatu dalam sebuah laras ketika
di mainkan. Improvisasi penabuhnya membuat irama gamelan tidak bisa
lepas dari jalur laras.
Interaksi jiwa antara penabuh / pengrawit dengan
kekuatan imateriil
( sebut saja ‘ roh gamelan ‘ ) akan tampak
ketika gamelan tersebut ditabuh. Banyak gamelan kuno ( buatan sebelum
tahun 1960 ) mengalami drop kekuatan imateriilnya. Kurangnya perhatian
merawat kekuatan imateriil menjadi penyebab. Ki
Ageng Panembahan Darmo Sasmito
sering melihat gamelan dengan tampilan yang indah, cantik
dan mewah dalam estetikanya, namun kekuatan imateriilnya mengalami
penurunan yang tajam. Hal tersebut oleh karena sudut pandang nilai
estetika / seni pemilik terakhirnya. Banyak juga pemilik gamelan
kebingungan oleh karena gamelan miliknya telah beberapa kali di
laras, tetap saja belum menghasilkan laras yang dikehendaki.
Gamelan di bawah ini adalah gamelan kuno telah
dilaras kembali, namun kekuatan imateriilnya masih rendah. Di mata
Ki Ageng Panembahan Darmo Sasmito, gamelan ini punya potensi imateriil
yang tinggi. Hanya diperlukan sebuah perawatan dan mengoptimalkan
kembali kekuatan imateriilnya. Rancak ( wadah kayu / bagian dari
gamelan ) nampak kurang menarik. Rancak bisa diganti dengan model
yang ukir dan baru. Gamelan bisa dirawat kembali dengan “
jamasan “, namun pemiliknya ingin melepas kepada peminat
gamelan kuno. Ki Ageng Darmo Sasmito sangat sedih bila melihat gamelan
yang kurang terawat dengan baik. Gamelan tersebut telah ditinggal
oleh pecinta / pemiliknya kembali ke Sang Pencipta. Istri dan keluarganya
ingin melepas gamelan ini kepada orang yang bisa memiliki dan merawat
dengan baik dan benar.
Ada yang tertarik untuk memiliki dan merawat…?
Silahkan kontak dengan pengelola website ini…Rahayu..rahayu…rahayu….
|