KRONOLOGIS
Berawal dari melihat situasi dan kondisi yang muncul ditengah-tengah masyarakat kawasan Surakarta dan bangsa yang tiada kunjung datang apa yang didambakan. Terkotak-kotaknya kehidupan masyarakat hanya pada sebuah kepentingan perut, telah merubah dan mendegradasi budaya bangsa yang semestinya guyub membangun kekuatan untuk bangkit kembali. Akhirnya kesadaran membangun kembali jiwa merah-putih mulai tampak pada komunitas-komunitas tertentu. Kompetisi harus selalu ada sebagai sebuah spirit untuk melangkah kedepan yang lebih cerah. Setelah berbagai pihak melakukan kegiatan masing-masing yang pada endingnya adalah bangkitnya bangsa dari keterpurukan dengan darah merah-putih.
Ditengah-tengah gelegar dan gaungnya SIEM ( Solo International Etnik Music ) di Benteng Vesternberg. Lahir dan terlontar dari bibir anak bangsa yang bernama FX. Hadi Rudyatmaka yang kebetulan menjabat sebagai Wakil Walikota Surakarta : “ Laskar Merah-Putih “. Kata “ Laskar Merah-Putih “ menjadi dasar pemikiran untuk diaplikasikan dalam masyarakat yang terdukung oleh manusia, alam dan Sang Pencipta.
Legitimasi harus didapatkan dari Sang Pencipta lewat leluhur-leluhur yang memiliki sistem hirarki tersendiri. Pusat hirarki tersebut ada di lawu, sebagai sebuah etika dalam budaya manusia legitimasi diajukan dalam sebuah estetika budaya. Legitimasi yang didapat disertai nilai-nilai etika dan estetika Majapahit yang pernah mencapai jaman keemasan. Harapan para leluhur adalah kembalinya roh atau spirit keemasan majapahit dalam masyarakat. Dengan legitimasi Sang Pencipta lewat para leluhur di lawu, alam secara otomatis mendukung untuk terwujudnya “ Laskar Merah-Putih “.
Kini, “ Laskar Merah-Putih “ dibentuk sebagai wadah masyarakat yang dibentuk memiliki kemampuan ‘ local genius ‘, dalam menghadapi kompetisi global. Menciptakan kawasan Solo Raya menjadi “ center of world cultur “ dalam arti pusat budaya manusia. Multiplier effect akan mengikuti gelombang irama tersebut. Adi kodrati untuk menjadi manusia adalah kompetisi diantara 330 juta sperma bapak di gua garba ibu. Adalah wajar bila Ibu pertiwi akan selalu melahirkan manusia yang berkemampuan ‘ local genius ‘. |